Tuesday, November 25, 2008

Terpesona

Seorang mahasiswa memasuki kelas. Sebagian pakaiannya basah akibat kehujanan. Di luar memang hujan deras, namun ia memaksakan diri menerobos hujan deras demi sampai di kampus. Meski sudah terlambat selama setengah jam, lelaki itu tetap saja memasuki kelas. Tak dipedulikannya dosen yang sedang sibuk memandu diskusi kelas. Ia langsung saja mencari kursi yang kosong dan duduk dengan santainya.

Lelaki itu tampak kuyu dan berantakan. Terlihat benar bahwa ia tidak bersemangat untuk pergi kuliah hari ini. Ia tidak membawa tas dan buku-buku. Kehadirannya hanya untuk mengangkat tangan saat kuliah ini berakhir nanti, agar lembar presensinya terisi. Sebuah lembar formalitas yang memaksa mahasiswa untuk hadir di kelas, agar kelak mereka berhasil mendapatkan satu lagi lembar formalitas yang bernama ijazah.

Diskusi berjalan dengan menarik di kelas itu. Penyaji dan peserta tampak bersemangat. Mereka kaum intelek yang sedang membicarakan retail distribution, service quality, store brand, dan sebagainya, yang akan membuat tukang becak dan penjual nasi goreng terbengong-bengong jika mendengarnya. Tapi diskusi itu tidak menarik perhatian lelaki yang terlambat tadi. Wajahnya muram, seperti cahaya lampu temaram di tengah hutan. Ia berada di dunianya sendiri, seolah ia adalah point of interest dalam slow motion, sementara dunia di sekelilingnya bergerak dengan cepat tanpa dihiraukannya. Pikirannya berlari keluar kelas lalu terbang menemui seorang gadis yang baru saja dikenalnya. Ya, ia sedang jatuh cinta. Perasaan itu baru saja didapatnya ketika ia mengajak makan malam seorang gadis dan menyadari bahwa gadis itu begitu istimewa.

Cinta memang tidak masuk akal. Lelaki yang sedang muram itu, malam-malamnya dipenuhi oleh kegelisahan tak berdasar. Matanya sulit terpejam saat ia hendak tidur. Ia akan tercenung memandangi ponselnya, berharap ada pesan yang masuk. Ketika pesan itu masuk, ia kegirangan dan tak sabar membukanya. Lalu ia menggerutu karena pesan itu bukan datang dari gadis yang diharapkannya. Sementara di malam yang lain, tangannya sibuk memainkan pena, menuliskan coretan kerinduan di atas sebidang kertas.

Diskusi di kelas itu masih berjalan dengan menarik. Akan tetapi lelaki itu masih saja sibuk dengan pikirannya sendiri. Hanya saja, ia sesekali melirik pena dan kertas yang tergeletak diam di kursi sebelahnya. Nampaknya tangannya gatal ingin menuliskan sesuatu. Maka diambilnya pena dan kertas itu tanpa permisi. Tidak dipedulikannya sang pemilik yang kaget terbengong-bengong melihat barang-barangnya diambil. Lelaki itu hanya diam membisu, mengingat-ingat kembali sebuah puisi yang dibuatnya semalam tadi, saat kegelisahan menderanya tak henti-henti. Lalu dituliskannya kembali puisi itu…

Katakan, bagaimana aku tidak terpesona?
Waktu seolah berhenti saat senyummu mengembang
Jantungku berdegup kencang saat kita bertemu pandang
Dan sipit mata saat engkau tertawa, sungguh tak bisa kulupa

Katakan, bagaimana aku tidak terpesona?
Bayangan dirimu menggoda tidurku dan tak bisa hilang…

2 comments:

eka nugraha said...

wah bisa aja nih, tapi cerpen emang mewakili penulisnya.

cinta emang tak masuk akal bos. sepakat aku. mampir lagi yukk

eka said...

ya neh bang, mungkin karena itu bahasanya jadi jurnalis banget. kalau milis sastra aku gak ikutan. aku cuma ikut grup fs sastra aja. males ikutmilis banyak2 takut pusing. hehehe