Saturday, April 12, 2008

Panderman Hill (Bagian 2): Puncak

Akhirnya tibalah kita di puncak bukit Panderman, berupa tanah lapang yang cukup luas. Tanah lapang itu tidak seluruhnya rata, melainkan berkontur dan terdapat beberapa bagian yang lebih tinggi dan lebih rendah, seperti diatur sedemikian rupa oleh alam sehingga terbentuklah kapling-kapling tempat para pendaki mendirikan tenda. Seperti cluster permukiman mewah yang terdiri atas puluhan kapling tanah siap bangun, yang biasa kita jumpai di kawasan dataran tinggi elit.
Dari puncak, jika melihat ke atas kita akan disuguhi hamparan bintang di angkasa, dan jika melihat ke bawah maka kita akan menjumpai kelap-kelip lampu kota Batu dan sekitarnya. Seolah-olah kita melihat danau yang memantulkan penampakan benda-benda di atas dan seberang danau sana, maka lampu-lampu kota itu adalah pantulan dari cahaya-cahaya bintang di angkasa.

Pendakian Panderman hill hanya memerlukan waktu antara dua hingga lima jam saja, tergantung keahlian, kondisi fisik, serta barang dan siapa yang kita bawa serta. Mengajak pendaki profesional tentu jauh lebih cepat dibanding mengajak perokok berat yang baru pertama kali naik gunung! Bukannya berusaha mencapai puncak, mereka biasanya tergoda untuk bermalam di Watu Gede, tempat pemberhentian sementara berupa tanah lapang yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah batu besar. Namun jika tujuan kita adalah menikmati matahari terbit, kita harus mendaki hingga puncak, karena di Watu Gede kita baru bisa melihat matahari pada pukul 9 pagi! Semua ini gara-gara tebing yang menutupi pandangan kita ke sisi timur. Tentu saja kita tidak bisa memindahkan tebing itu seperti memindahkan telapak tangan dari muka saat melakukan cilukba.

Karena pendakian menuju puncak hanya memakan waktu sebentar, biasanya para pendaki memilih untuk berangkat dari kaki bukit selepas magrib atau isya. Bukannya tanpa alasan. Para pedaki tidak sabar melewatkan malam hari di puncak Panderman. Bukan karena ingin segera melihat matahari terbit, namun karena tidak tahan dengan suhu udara yang dingin! Untuk mengusir dingin, kita harus membuat api unggun. Bermain gitar juga boleh, asalkan ada teman yang cukup hebat bisa mendaki jalan terjal berpasir dengan satu tangan, karena tangan yang satunya untuk membawa gitar. Sedangkan di punggungnya tidak ada lagi tempat yang tersisa karena dibebani tas ransel yang berisi tenda, sleeping bag, beberapa bungkus roti dan mie instan, bahan bakar, serta tidak lupa dua botol air mineral 1500ml.

Jika kita tidak pernah naik gunung sebelumnya, jangan sekali-kali mendaki Panderman hill saat musim ajaran baru. Musim ajaran baru adalah sebutan bagi musim di kota Malang ketika tahun ajaran baru mahasiswa. Pada bulan-bulan tersebut, kota Malang terasa lebih dingin dari biasanya. Sebuah penyambutan, atau lebih tepatnya perpeloncoan, yang diselenggarakan oleh alam bagi mahasiswa baru di kota Malang, terutama bagi mereka yang berasal dari luar kota: air yang dingin memaksa mereka untuk tidak mandi selama beberapa hari, dan jika ingin tidur nyenyak ikuti saran saya: belilah selimut tebal!

Saya pernah mendaki Panderman hill saat musim ajaran baru. Ketika bermalam di puncak, saya tidak bisa tidur sama sekali, meski sudah memaksakan diri setengah mati. Tubuh rasanya kaku tak berdaya dibekap hawa dingin yang menusuk. Untuk berjalan sepuluh meter demi memenuhi panggilan alam saja, saya memerlukan waktu lebih dari dua menit! Dan keesokan paginya saya menemukan roti-roti saya dalam keadaan terbujur kaku kedinginan.

Perjuangan mendaki Panderman hill akan terbayar lunas beberapa saat lagi, saat matahari terbit di ufuk timur. Pertunjukan pun dimulai. Langit yang hitam pekat perlahan diusir oleh pendaran cahaya merah dari timur. Tidak lama kemudian muncul warna jingga dan kuning saat cahaya itu semakin merekah, begitu meriah. Seperti menyaksikan bunga matahari yang berkembang menyambut pagi. Dan ketika kilauan cahaya menyusup di sela-sela pepohonan di perbukitan nun jauh di sana, wajah kita diterpa hangatnya pancaran matahari pagi. Saat itu juga kita akan merasakan kelegaan dan sensasi kebahagiaan yang cukup luar biasa, seperti menemukan bahwa mangkuk terakhir es teler yang kita sembunyikan di dalam lemari – karena harus kita tinggalkan untuk mengikuti shalat tarawih – ternyata masih ada di tempatnya.

No comments: