Wednesday, April 16, 2008

Kamarku Mati Lampu: Mahasiswa, Uang dan Politik Kampung (Bagian 1)

Hari beranjak gelap. Matahari sudah minggat sejak pukul setengah enam tadi. Mungkin merajuk karena banyak manusia, terutama gadis-gadis muda yang takut sinar matahari, mengeluh gerah dan kepanasan saat mereka beraktivitas, padahal matahari sudah capek-capek menyinari bumi seharian tadi. ”Bah! Masih untung aku mau lewat di atasmu, sehingga kamu bisa melihat dan beraktivitas dengan baik. Coba kalau aku tidak ada, jangankan mengoleskan pemutih di atas kulitmu, mengetahui warna kulitmu pun kau tak akan bisa!” begitu barangkali yang akan dikatakannya jika Matahari diberi kesempatan berbicara.

Aku tak peduli dengan apa yang dipikirkan gadis-gadis muda itu. Aku juga tak mau ambil pusing dengan celaan matahari. Pikiranku sibuk dengan lampu depan motorku yang mati sejak beberapa hari yang lalu. Menyusuri jalan-jalan kampung di malam hari tanpa lampu adalah perkara yang menyusahkan buatku. Bukan karena resiko menabrak orang atau takut dimarahi penduduk kampung, namun aku jadi tidak bisa melihat dengan jelas wajah gadis-gadis muda itu. Biasanya dengan cuci mata, pikiranku tak lagi buntu.

Walaupun aku cukup terganggu dengan matinya lampu motorku, aku tak segera membeli lampu baru. Dengan lampu motor yang mati, aku jadi punya alasan untuk nebeng atau diantar jemput teman-teman jika ada kegiatan bersama di malam hari. Melanggar peraturan lalu-lintas adalah pantangan buatku. Teman-temanku sampai bosan mendengar ocehanku: ”Kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh seberapa banyak warga negaranya yang patuh terhadap hukum”. Maka mereka terpaksa menjadi tukang ojek kalau ingin mengajakku pergi di malam hari. Jika Anda ingin ada terobosan dalam hal penghematan anggaran BBM, ikutilah saran konyol saya: buanglah lampu depan motor Anda!

Perkara membeli lampu baru sebenarnya tidak jauh-jauh dari masalah duit. Bulan ini pengeluaranku banyak sekali, sehingga memaksaku menggenjot penjualan jasa penerjemahan. Jasa penerjemahan Sahid & Rekan memang sedang kebanjiran order, sampai-sampai aku perlu turun tangan mengerjakan penerjemahan karena tiga orang staf ternyata tidak sanggup menyelesaikan seluruh permintaan.

Tetap saja, penghasilan dari jasa penerjemahan itu tidak dapat menutupi pengeluaran bulan ini. Aku sempat berpikir untuk meminta kiriman uang dari orang tua, tapi aku segera membuang jauh-jauh pikiran itu. Bukan karena orang tuaku tak sayang padaku sampai-sampai meminta tambahan uang pun tak dikasih. Justru aku khawatir dengan rasa sayang orang tua kepada anak. Demi membahagiakan anaknya, banyak orang tua yang mengabulkan permintaan barang yang aneh-aneh dari anaknya. Jika duit sendiri tak cukup, tenang saja, masih ada uang perusahaan. Aku tak habis pikir dengan gaya hidup sebagian teman-temanku yang suka meminta-minta pada orang tua. Apakah mereka tidak takut jika nantinya orang tua mereka korupsi?

Aku masih sibuk memikirkan lampu motorku ketika aku sampai di depan kontrakanku. Aku begitu sentimen pada lampu, hingga aku sampai pada satu kesimpulan: karena tidak ada anggaran, bulan ini aku tak mau membeli lampu. Bukan hanya lampu motor, aku juga tak mau membeli lampu senter, lampu rumah atau lampu-lampu yang lain. Bahkan, malam ini aku berencana langsung tidur dan tak mau menyentuh saklar-saklar lampu di rumahku. Aku tak mau membeli lampu dan tak mau berurusan dengan lampu!

Ketika aku membuka pintu kontrakanku, tiba-tiba sang empunya rumah datang menghampiriku.

”Mas Sahid, kemarin ada rapat RT. Karena lampu-lampu jalan sudah diputus oleh PLN, maka setiap rumah harus memasang lampu di depan rumah. Mas Sahid jangan lupa besok beli lampu ya!” ujarnya dengan tersenyum manis tanpa perasaan bersalah. Dan kepalaku pun pening.


Bersambung...

Saturday, April 12, 2008

Panderman Hill (Bagian 2): Puncak

Akhirnya tibalah kita di puncak bukit Panderman, berupa tanah lapang yang cukup luas. Tanah lapang itu tidak seluruhnya rata, melainkan berkontur dan terdapat beberapa bagian yang lebih tinggi dan lebih rendah, seperti diatur sedemikian rupa oleh alam sehingga terbentuklah kapling-kapling tempat para pendaki mendirikan tenda. Seperti cluster permukiman mewah yang terdiri atas puluhan kapling tanah siap bangun, yang biasa kita jumpai di kawasan dataran tinggi elit.
Dari puncak, jika melihat ke atas kita akan disuguhi hamparan bintang di angkasa, dan jika melihat ke bawah maka kita akan menjumpai kelap-kelip lampu kota Batu dan sekitarnya. Seolah-olah kita melihat danau yang memantulkan penampakan benda-benda di atas dan seberang danau sana, maka lampu-lampu kota itu adalah pantulan dari cahaya-cahaya bintang di angkasa.

Pendakian Panderman hill hanya memerlukan waktu antara dua hingga lima jam saja, tergantung keahlian, kondisi fisik, serta barang dan siapa yang kita bawa serta. Mengajak pendaki profesional tentu jauh lebih cepat dibanding mengajak perokok berat yang baru pertama kali naik gunung! Bukannya berusaha mencapai puncak, mereka biasanya tergoda untuk bermalam di Watu Gede, tempat pemberhentian sementara berupa tanah lapang yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah batu besar. Namun jika tujuan kita adalah menikmati matahari terbit, kita harus mendaki hingga puncak, karena di Watu Gede kita baru bisa melihat matahari pada pukul 9 pagi! Semua ini gara-gara tebing yang menutupi pandangan kita ke sisi timur. Tentu saja kita tidak bisa memindahkan tebing itu seperti memindahkan telapak tangan dari muka saat melakukan cilukba.

Karena pendakian menuju puncak hanya memakan waktu sebentar, biasanya para pendaki memilih untuk berangkat dari kaki bukit selepas magrib atau isya. Bukannya tanpa alasan. Para pedaki tidak sabar melewatkan malam hari di puncak Panderman. Bukan karena ingin segera melihat matahari terbit, namun karena tidak tahan dengan suhu udara yang dingin! Untuk mengusir dingin, kita harus membuat api unggun. Bermain gitar juga boleh, asalkan ada teman yang cukup hebat bisa mendaki jalan terjal berpasir dengan satu tangan, karena tangan yang satunya untuk membawa gitar. Sedangkan di punggungnya tidak ada lagi tempat yang tersisa karena dibebani tas ransel yang berisi tenda, sleeping bag, beberapa bungkus roti dan mie instan, bahan bakar, serta tidak lupa dua botol air mineral 1500ml.

Jika kita tidak pernah naik gunung sebelumnya, jangan sekali-kali mendaki Panderman hill saat musim ajaran baru. Musim ajaran baru adalah sebutan bagi musim di kota Malang ketika tahun ajaran baru mahasiswa. Pada bulan-bulan tersebut, kota Malang terasa lebih dingin dari biasanya. Sebuah penyambutan, atau lebih tepatnya perpeloncoan, yang diselenggarakan oleh alam bagi mahasiswa baru di kota Malang, terutama bagi mereka yang berasal dari luar kota: air yang dingin memaksa mereka untuk tidak mandi selama beberapa hari, dan jika ingin tidur nyenyak ikuti saran saya: belilah selimut tebal!

Saya pernah mendaki Panderman hill saat musim ajaran baru. Ketika bermalam di puncak, saya tidak bisa tidur sama sekali, meski sudah memaksakan diri setengah mati. Tubuh rasanya kaku tak berdaya dibekap hawa dingin yang menusuk. Untuk berjalan sepuluh meter demi memenuhi panggilan alam saja, saya memerlukan waktu lebih dari dua menit! Dan keesokan paginya saya menemukan roti-roti saya dalam keadaan terbujur kaku kedinginan.

Perjuangan mendaki Panderman hill akan terbayar lunas beberapa saat lagi, saat matahari terbit di ufuk timur. Pertunjukan pun dimulai. Langit yang hitam pekat perlahan diusir oleh pendaran cahaya merah dari timur. Tidak lama kemudian muncul warna jingga dan kuning saat cahaya itu semakin merekah, begitu meriah. Seperti menyaksikan bunga matahari yang berkembang menyambut pagi. Dan ketika kilauan cahaya menyusup di sela-sela pepohonan di perbukitan nun jauh di sana, wajah kita diterpa hangatnya pancaran matahari pagi. Saat itu juga kita akan merasakan kelegaan dan sensasi kebahagiaan yang cukup luar biasa, seperti menemukan bahwa mangkuk terakhir es teler yang kita sembunyikan di dalam lemari – karena harus kita tinggalkan untuk mengikuti shalat tarawih – ternyata masih ada di tempatnya.

Thursday, April 10, 2008

Panderman Hill (Bagian 1): Pendakian

Panderman hill. Bukit dengan ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut ini begitu menyenangkan untuk didaki. Di kaki bukit, kita akan disambut kemeriahan bermacam-macam tumbuhan dari berbagai jenis yang beranak-pinak menyebar menutupi bukit Panderman hingga bukit ini akan berwarna hijau jika dilihat dari kejauhan. Seperti jajan nogosari yang dibalut pelepah daun pisang. Setelah melewati kaki bukit, kita akan menyusuri jalan setapak yang diteduhi pohon dan semak-semak yang rimbun, bagai menyusuri labirin berdinding tanaman perdu tinggi yang berada di taman kerajaan-kerajaan Eropa.

Sebelum mencapai puncak, sesekali kita akan mendaki jalan terjal berpasir. Inilah yang menjadi tantangan pendakian bukit ini. Mendaki jalan terjal berpasir ini harus melewati serangkaian uji coba dan di bawah pengawasan ahli. Atau setidaknya kita harus mempunyai jam terbang tinggi. Jika tidak, kita akan terlihat konyol di mata pendaki lain yang hilir mudik melewati jalur ini, karena mereka akan melihat pemandangan paling memalukan sepanjang hidup: ketika kita mendaki jalan berpasir, kita terpeleset. Kita mencoba lagi dan kita terpeleset lagi. Bukannya mendekati puncak, kita malah semakin turun gara-gara pasir yang licin ini. Kita akan terlihat seperti anak ingusan yang mencoba menaiki telusuran di kolam renang, terpeleset dan akhirnya tercebur ke dalam air.

Jika kita berhasil melewati jalan berpasir itu dengan cepat dan tangkas, kita boleh mengagumi diri sendiri, atau setidaknya berbangga hati, terlebih jika ada gadis pendaki yang melihat kita dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman. ”Wah, hebat sekali lelaki itu... Aku jadi ingin mengenalnya lebih dekat,” begitu barangkali yang akan di pikirkan si gadis.

Tuesday, February 05, 2008

IP hebat atau lulus cepat? Atau dua-duanya?

Motorku langsung melaju dengan kencang sesaat setelah lampu hijau itu menyala. Aku melihat kaca spion sebelah kanan, dan tak ada satupun kendaraan yang bisa mendekati aku. Aku jauh di depan mereka. Sesaat aku narsis mengagumi kehebatanku menggeber motor suzuki smash 2004 yang jarang kucuci ini. Ya, aku meliuk-liuk di sela kemacetan jalan raya porong bagai pencopet ulung yang berlari menerobos keramaian pasar. Aku melesat cepat di luar kota pasuruan yang sejuk, bagai bintang jatuh berkelebat di tengah malam yang dingin menusuk. Tapi kekaguman dan kesenanganku sirna begitu saja ketika aku teringat sebuah hal yang sangat menyita perhatianku belakangan ini: Indeks Prestasi!

Aku langsung bosan dengan liburan ketika aku mengetahui IPku semester ini. Seandainya aku masih kuliah di teknik arsitektur, mungkin aku akan mengadakan syukuran saat memperoleh kabar baik ini. Tapi ini Fakultas Ekonomi, saudara. Anda tidak harus begadang berhari-hari hanya demi menyelamatkan diri dari IP rapido (rapido adalah pena teknik presisi tinggi dengan ukuran mulai 0.1mm, 0.2mm, 0.3mm, hingga 0.9mm. Jarang sekali mahasiswa teknik menggunakan rapido ukuran lebih dari 1mm. Sedangkan IP rapido adalah IP dibawah 1.0). Jika anda mahasiswa teknik, jangan protes jika mendapatkan IP rapido padahal anda sering begadang demi menyelesaikan tugas.

Selama aku menjadi mahasiswa teknik arsitektur, tidak pernah aku mendapat IP lebih dari 3. Rekorku adalah 2,98. sebuah angka yang mengesalkan, tapi tetap harus disyukuri. Aku masih ingat ketika seorang dosen memberikan nilai A+ dengan embel-embel kata "excellent" atas karyaku. Sebuah bidang lengkung yang disusun dari garis-garis tipis, membentuk shape kokoh nan megah. Juga sebuah rancangan rumah vila tropis dengan konstruksi kayu, yang harus kukerjakan selama dua semester demi mempertahankan sebuah idealisme: inovasi. Bentuk konstruksi yang sama sekali baru, rumit, dan elegan. Aku tidak rela ketika mendengar kabar bahwa kedua karyaku itu hilang. Di teknik arsitektur, nilai bagus hanya dapat dicapai dengan kreativitas, kerja keras, dan jam kerja tinggi.

Dan ketika aku pindah ke fakultas ekonomi, jujur saja, aku amat sangat terkejut. Aku seperti rakyat jelata yang terbebas dari kerja rodi. Tidak banyak pekerjaan yang aku lakukan. Sedikit membaca, sedikit membuat makalah, dan beberapa jam per hari di kampus (tidak tiap hari), aku sudah mendapatkan IP 3. Tanpa begadang, tanpa ketiduran di kampus, dan tanpa teriakan-teriakan frustasi di tengah malam. Itulah sebabnya aku sangat heran, mengapa banyak mahasiswa ekonomi yang merasa keberatan dengan kesibukan kuliahnya.

Mengukur kemampuanku, melihat IP yang kudapatkan, dan menatap jalan yang membentang, aku memutuskan untuk berjuang meraih IPK 3,5. Aku sadar, aku orang yang lemah, pernah mendapatkan ranking 53 dari 53 siswa waktu kelas 6 SD, beberapa kali mendapat angka merah dalam rapor SMU, ranking paling bawah di kelas dalam Ujian Akhir Nasional, tidak bisa akuntansi, dan prestasi tertinggiku hanyalah juara 2 kompetisi sitol di sekolah, dengan hadiah bebas SPP selama 3bulan (sitol adalah singkatan dari silang pentol, dalam bahasa inggris permainan ini disebut link 5).

Namun jika mengingat harga yang harus kubayar atas keputusanku untuk pindah jurusan, jika mengingat semua konsekuensi yang harus kuambil, jika mengingat semua yang aku korbankan, jika mengingat impian yang memenuhi rongga dada, jika mengingat bahwa waktu tak bisa kembali sehingga waktu begitu berharga, jika mengingat bahwa keyakinan dapat mengubah segalanya, jika mengingat kebesaran Tuhan, jika mengingat bapak ibuku, aku... seperti mendapatkan dorongan semangat yang luar biasa untuk mengerahkan segala potensi diri, yang aku yakin belum sepenuhnya tergali.

Jalan Soekarno Hatta. Aku melirik kaca spion motorku. Motorku melaju kencang, kendaraan di belakang semakin tertinggal dan mengecil dalam kaca spionku yang juga kecil. Seperti inikah waktu? berjalan cepat dan jika tak sigap aku akan tertinggal dan menjadi orang kecil? Aku memperlambat laju kendaraanku ketika aku sampai di depan sebuah kontrakan sederhana. Ada sebuah pamflet di kontrakan itu, yang bunyinya "SAHID & REKAN, spesialis penerjemahan INGGRIS - INDONESIA. Jl. Kertorahayu 21 Malang." Akupun tertawa dalam hati. Aku turun dari motor, dan aku berdiri. Lama sekali aku memandang rumah sederhana ini. Dengan ukuran kecil dan cat yang mulai mengelupas, yang akan kutinggali sendiri - karena penghuni lain sudah menyelesaikan studinya tahun ini. Bagaimanapun rumah kontrakan sederhana ini adalah sebuah kemewahan bagiku. Di dalamnya banyak fasilitas yang kubutuhkan untuk kesuksesan studi.

Dan sekarang, apa lagi yang dapat kukatakan selain ucapan terimakasih? Terimakasih untuk semua dosen yang memberiku nilai A dan B+, aku sangat terhibur. Untuk dosen yang memberikan nilai B, aku bingung karena ini adalah nilai yang tanggung - menyusahkanku saja. Untuk dosen yang memberikan nilai C+, terimakasih, Anda membakar semangat saya.

Untuk halim, femi, firda, chandra, yanuar helmi, anang, fariz, farid, dan masih banyak lagi, terimakasih untuk tahun pertama yang hebat dan menyenangkan di fakultas ekonomi. Kalian membuatku yakin dan tidak menyesali pilihanku untuk masuk fakultas ekonomi.

Untuk aan, reza yanuar, reza ngos, addin, anis, azhar, andy medunten, dana, pak kaji, harun, okta, eduardo, rudek, irwan, mabon, jabon, dan semua teman-teman manajemen 2005 baik yang kenal maupun yang tidak, yang (mohon maaf) tidak dapat saya tuliskan semua disini, terimakasih atas persahabatan dan bantuan selama ini. Tanpa kalian, aku tidak akan dapat meraih impianku. Dan aku sangat membutuhkan dukungan moril dari teman-teman semuanya.

Ayo teman-teman, bersama-sama kita berjuang meraih IP hebat dan lulus cepat, demi masa depan yang lebih baik. Kalian sudah gede, apa harus ibu yang menyemangati dan menemani kalian belajar? hehe.. Semangat!

Tuesday, January 22, 2008

Saat-saat Aku Tenggelam dalam Lautan Asmara


     
     Entah sejak kapan aku mulai memperhatikanmu. Aku seperti terbangun dari mimpi, tiba-tiba saja menyadari. Tak ada puisi, tak ada ungkapan hati. Tiba-tiba saja bayangmu datang dan pergi silih berganti, seperti hujan meteor yang kusaksikan tempo hari. Menimbulkan sensasi penuh cita rasa saat bayangmu datang menyapa dengan senyum manismu.

     Sebelumnya aku memandangmu biasa - seperti yang lainnya. Tapi mengapa tiba-tiba aku menyimpan fotomu? Aku jadi malu... Mudah-mudahan ini bukan gejala jatuh cinta, karena aku tipe lelaki yang tak kuat menanggung rindu. Tapi jika nantinya hatiku tak bisa berkompromi, tidak apa. U're pretty enough. Dengan wajah manis dan keramahanmu, aku tak perlu sering-sering rekreasi untuk menenangkan hati - sudah ada kamu. Sebuah kompensasi yang menarik, bukan?

     Sejujurnya tak banyak informasi yang kupunya tentangmu. Hanya kata "mas," yang jelas teringat di kepalaku - saat kau menyapaku. Memangnya tidak ada kata lain ya non? Banyak yang bisa kita bicarakan. Kita bisa mulai dengan cerita tentang suka duka menjadi diri kita yang sama-sama anak kedua paling manis dari tiga bersaudara.

    Ternyata menghela nafas panjang tak bisa menyingkirkanmu dari pikiranku. Aku seperti di tengah lautan, di atas perahu yang bocor dimana-mana, telapak tanganku menyatu dan berusaha mengeluarkan air yang makin membanjiri perahu. Lelah aku mengusir luapan rindu yang datang bertubi-tubi. Lebih mudah membiarkan perahu penuh air dan menikmati saat-saat aku tenggelam dalam lautan asmara...

    Kesuksesan ujian akhir semester tak membuat aku girang. Datangnya liburan tak segera membuatku ingin pulang. Ingin melihatmu sekali lagi. Berat rasanya ingin pergi. Seperti waktu itu, saat aku meninggalkanmu sendiri di malam yang gelap dan sepi, di bawah pohon palem di tengah-tengah fakultas ekonomi.

Saturday, December 29, 2007

Happy New Year 2008!



Sahid & Rekan mengucapkan Selamat Tahun Baru 2008! Semoga di tahun yang baru, usaha kita makin lancar, hahaha!

Saturday, December 15, 2007

wow, aku melihat 49 meteor dalam satu jam!

aku sedang bingung antara melihat film tomorrow never dies ato speed, ketika reminder hpku berbunyi. aku baca dan isinya: jam 11.45 puncak hujan meteor! ya, sehari sebelumnya aku baca berita hujan meteor di okezone.com. aku pun jadi tambah bingung memilih yang mana, semua asyik!

maka ketika jeda iklan, aku iseng2 keluar rumah dan menatap langit. sangat mengejutkan, tiba-tiba aku meihat dua meteor yang muncul hampir bersamaan! aku pun memutuskan untuk melihat meteor di tempat yang lapang dan gelap. sulit sekali aku membayangkan lokasi seperti itu di sekitar rumah, apalagi puncak hujan meteor tinggal sebentar lagi. akhirnya aku mengajak nanok sm mas pei ke lapangan rektorat.

sesampainya disana, kami menggelar alas seadanya: jas hujan! lalu kami tiduran di alas itu. diperhatikan oleh beberapa pejabat rektorat yang sedang meeting di depan rektorat, juga oleh para pekerja proyek yang sedang istirahat di pinggir lapangan. mungkin mereka berpikir, kami ini orang bodoh, malam dingin gini ke rektorat, langsung menggelar jas hujan bodoh di tengah lapangan, dan tiduran seperti orang bodoh! haha...

begitu kami merebahkan diri, kami dibuat terpesona oleh hujan meteor malam tadi. setiap ada meteor yang melintas, kami bersorak gembira seperti orang bodoh. jika orang lain tidak tahu kami sedang apa, mungkin mereka berpikir kami memang bodoh, haha... tapi buat aku, malam tadi seperti melihat final piala dunia antara perancis vs italia. ya, seperti itu kira2. hebatnya, setiap meteor yang muncul, bagaikan menyaksikan gol! malam tadi aku melihat 49 meteor. jadi, perasaanku seperti melihat 49 gol dalam pertandingan final piala dunia! luar biasa!

setiap kali ada meteor yang muncul, kami bersorak. lucu sekali ketika dua orang melihat sebuah meteor besar, namun ada satu orang yang tidak melihatnya. menyesal sekali, haha... ketakjuban kami juga membuat perhitungan jumlah meteor yang muncul juga sedikit kacau, sehingga memaksaku untuk mencatat jumlah meteor yang aku lihat.

pukul 00.30, aku begitu asyik menunggu meteor-meteor itu muncul lagi, hingga hampir lupa bahwa besok ada kuliah dua kali. belum lagi kantuk dan dingin yang mulai menusuk, memaksa kami untuk mengakhiri pengamatan malam tadi. tapi aku masih berat meninggalkan tempat itu, dan masih ingin melihat meteor untuk terakhir kalinya. akhirnya kami membuat kesepakatan, ketika kami melihat meteor yang sama pada saat yang bersamaan, kami harus pulang. ini yang lucu. ketika aku melihat meteor, mas pei sm nanok gk liat. ketika nanok liat, aku sm mas pei gk liat. begitu bolak balik, sampai akhirnya ada sebuah meteor besar yang melintas dari tengah-tengah langit menuju sisi rektorat, terang sekali. kami bersorak heboh sekali. selain karena itu meteor yang sangat terang, akhirnya kami melihat meteor bersamaan, dan itu artinya kami bisa pulang, hehe...

mungkin ini kesempatan sekali seumur hidup. malam tadi, mulai pukul 11.15 hingga pukul 00.30 aku melihat 49 meteor. sekedar catatan, sebelumnya aku belum pernah melihat meteor, bintang jatuh, atau apapun itu namanya. dan malam ini aku dikasih lihat sama Tuhan, 49 meteor sekaligus! hehe...

Sunday, December 09, 2007

suka duka SAHID & REKAN



beberapa minggu ini aq sibuk banget. usaha penerjemahan SAHID & REKAN udah mulai mendapatkan pelanggan. bahkan ada saat tertentu dimana aku harus memakai seluruh kapasitas, sehingga sempat sibuk mencari cadangan rekan translator. sekarang SAHID & REKAN berasosiasi dengan 5 freelance translator. senangnya...

memang banyak suka duka dalam menjalankan usaha jasa penerjemahan INGGRIS-INDONESIA ini. senangnya, aku bisa menambah kosakata bahasa inggris, menambah uang saku, dan membantu temen2 translator dalam mencari pelanggan. dukanya, jadi lebih sibuk dari sebelumnya. sedikit pusing dalam promosi penjualan dan negosiasi harga dengan freelance translator, dan yang membuat aku sedih, beberapa teman bereaksi negatif terhadap langkahku membuka usaha penerjemahan ini. aku benar2 tidak habis pikir...

btw, show must go on... ortuku bilang, lakukan sebanyak mungkin sebab-sebab kebaikan. karena sebab yang baik akan menjadi hasil yang baik, entah bagaimana prosesnya, entah apapun bentuknya. itu hukum alam. nah, karena aku yakin yang aku lakukan ini adalah hal yang baik, maka aku teruskan saja. karena aku yakin usahaku ini akan menjadi hasil yang baik, entah dalam bentuk apa, entah bagaimana prosesnya.

Sunday, December 02, 2007

malas!

banyak yang ingin kutuliskan sebulan belakangan ini............ tapi kenapa aku malas sekali?

Thursday, November 22, 2007

keajaiban

Ah, dua minggu belakangan ini kontrakanku mengalami masa suram. biasa, penghuni-penghuninya sedang mengalami krisis finansial. biasanya kami makan apa saja terserah kami, sekarang kami terpaksa memasak sendiri :). aku sendiri tidak begitu parah, hanya saja anggaran untuk sesuap nasi memang telah habis untuk kebutuhan yang lain. lucu sekali melihat anak-anak tidak bisa keluar kemana-mana, hanya diam di kontrakan sambil menunggu keajaiban?
aku yakin Tuhan masih sayang kepada kami, karena dua hari yang lalu datang order penerjemahan yang cukup besar - terbesar yang pernah diterima SAHID & REKAN, sehingga akhir bulan ini bisa dijalani dengan hati tenang.
alhamdulillah :)

Tuesday, November 13, 2007

Membaca Wajahmu


Ingatlah semua
hati yang meragu
dan jalan berliku
yang telah dilewati.
Sebab mulai hari ini
takkan lagi kautemui
aku lelaki merayu-rayu
serta puisi mendayu-dayu.
Xxxx Xxxxxxx, wajahmu terbaca
serupa rangkaian kata-kata:
cinta tak buat kita bersama
rindu tak buat kita bersatu
meski saling menyayangi
namun tak bisa memiliki.
Ingatlah hari ini
saat aku pergi
dalam gontai,
gumam lambat:
aku tak tahan lagi
(dengan suara berat)
sebab cintaku tak tulus
hasrat memiliki di setiap nafas yang berhembus.
Dan pikirku kembali ke masa lalu...
entah sudah berapa putaran bumi
gadis seperti dirimu kucari-cari
di antara gang-gang kehidupan
yang susah-payah kutelusuri.
Xxxx Xxxxxxx, wajahmu terbaca
serupa rangkaian kata-kata:
inilah yang terbaik buat kita.
Dan hati kecilku,
ia mengucap pasti:
kau takkan terganti.


Surabaya, januari 2007

Malam yang mempesona

Rinai hujan sore tadi meninggalkan jejaknya:
Genangan rindu di pelupuk mata

Dan cinta mengusir segala risau
Ah, malam yang mempesona; seperti engkau...


Malang, 12 Nopember 2007, pukul 10.30 malam.

Monday, November 12, 2007

aku berkata

Belakangan ini aku suka banget bikin puisi yang hanya terdiri dari maksimal 1x sms (gk tau deh brp karakter). kelebihan puisi2 ini adalah singkat, sesuai dengan format sms, jadi bisa dikirim dengan 1x sms. pekerjaan menggombal kesana-kemari jadi makin lancar deh.. haa..

tanyalah ayah, apa cinta boleh menyerah
tanyalah ibu, apa rindu harus membisu
padamu aku berkata, aku cinta
tentangmu aku tak ragu, aku rindu.


Saturday, November 10, 2007

aku rindu

semalam aku tak bisa memejamkan mata. entah mengapa, namun waktu berjalan lambat sekali. aku tak sabar menunggu tertidur, seperti menanti anthurium black beauty tumbuh subur...

waktu menunjukkan pukul 11.00, namun aku belum bisa memejamkan mata. padahal sudah mulai pukul 10.00 tadi aku merebahkan diri. aku sungguh gelisah. perasaan apa ini... tanganku tak bisa lepas dari ponselku, memandangi waktu dalam gelap kamarku. hingga ibu jariku menuliskan kata-kata ini dalam message...

aku rindu, senyum manis membekas dalam kalbu.
masih saja rindu, menahan laju detak jantungku.
sungguh aku rindu, jalani malam penuh haru nan sendu.
aku tersedu...


detik-detik jarum jam menggema dalam alam sendiriku. mereka menghitung mundur, mengantar menuju alam bawah sadar...

Friday, November 09, 2007

aku, mata dan tubuhku

mataku lelah... berat dan perih. bola mataku rasanya mau keluar, seakan-akan mau meloncat kabur karena kelopak mataku ingin memenjaranya dalam kegelapan.

aku kedinginan... udara pagi buta menyerbu masuk melalui celah jendela, memelukku hingga tubuhku menggigil. dahiku terasa hangat saat bertemu dengan punggung tanganku.

aku lemah... tubuhku susah kukendalikan, seolah ia ingin bergerak sendiri. tenaga yang masih tersisa membuatnya sedikit bersemangat untuk berdiri. samar-samar kudengar tubuhku berbisik lemah... ia ingin ke tempat tidur nampaknya. rindu bantal dan selimut tebal katanya!