Tuesday, August 26, 2008
Kamarku Mati Lampu: Mahasiswa, Uang dan Politik Kampung (Bagian 7)
Kami memiliki sebuah klub bulutangkis. Namanya adalah PB MALING. Kami menamainya demikian karena kami jarang ataupun sering telat membayar sewa gedung bulutangkis. Sebisa mungkin kami akan menghindari bapak penjaga gedung yang tinggal tidak jauh dari gedung bulutangkis itu. Karena gedung itu tidak pernah dikunci, maka kami bebas keluar masuk untuk bermain bulutangkis di dalamnya. Nah, jika tiba waktunya kami membayar, maka seusai bermain bulutangkis kami akan buru-buru kabur seperti maling!
Gara-gara tingkah kurang ajar kami, gedung itu kemudian digembok setiap saat. Gembok hanya dibuka jika ada penyewa yang akan bermain, tentunya setelah bapak penjaga memastikan bahwa mereka telah membayar uang sewa. Sejak saat itulah kami insyaf, lalu membayar uang sewa secara teratur dan tepat waktu. Seiring dengan berubahnya sikap kami, mungkin ada baiknya kami juga mengubah nama klub kami. PB TOBAT kelihatannya nama yang cocok.
Sebagai tipikal orang yang bermulut besar dan semaunya sendiri, aku mengangkat diriku sendiri sebagai Sahidkage Malinggakure. Kira-kira artinya adalah ”pak Sahid sang ketua kampung maling.” Tugasku adalah mengajarkan teknik bermain bulutangkis tingkat tinggi kepada setiap anggota PB MALING. Beberapa jurus yang kuajarkan diantaranya backhand smash pake tangan kiri sambil salto. Jurus lainnya adalah Super crossing smash down to your own fild. Artinya kira-kira “smash menyilang yang amat dahsyat, tapi bukannya masuk ke daerah lawan namun justru jatuh ke daerahmu sendiri!”
Tentu saja semua itu hanya bualan. Namun yang pasti, setiap orang yang ingin bergabung dengan PB MALING harus berhadapan denganku. Jika berhasil mengalahkanku dalam permainan bulutangkis, barulah orang itu boleh bergabung. Mengapa demikian? Tentu saja karena aku adalah anggota yang kemampuan bermain bulutangkisnya paling rendah. Teman-teman akan muak jika di PB MALING ada satu lagi orang dengan kemampuan bermain bulutangkis seperti diriku. Itulah sebabnya mereka sangat concern terhadap perkembangan kemampuanku bermain bulutangkis. ”Orang ini menjelekkan nama baik PB MALING saja!” begitu barangkali pemikiran mereka. Tapi kurasa tanpa keberadaanku pun, PB MALING tetap nama yang jelek.
Bermain bulutangkis sangat menguras tenaga. Tidak jarang badan kami jadi meriang dan pegal-pegal setelah seharian bermain. Jika itu yang terjadi, teman-teman biasanya akan istirahat dan bolos kuliah. Tapi tidak denganku, karena aku sangat peduli dengan pendidikan. Aku titip absen...
Saturday, June 07, 2008
Kamarku Mati Lampu: Transaksi Cinta (Bagian 1)
Seringkali aku berpikir bahwa wanita susah dimengerti. Meraba-raba apa yang ada di benaknya sama saja seperti seorang penderita rabun akut yang mencoba berjalan tanpa memakai kacamata. Berbulan-bulan lalu aku tak pernah berhasil mengajak ia pergi berdua denganku. Namun kali ini, hanya dengan iseng-iseng mengirimkan satu satu pesan singkat tanpa basa-basi, dia langsung menjawab, ”Mau dong ikut...”
Berhasil mengajaknya pergi, kebimbangan justru hinggap di pikiranku, sehingga menghasilkan wajah kaku pertanda ragu ketika berbincang dengannya. Aku tak mau ambil pusing dengan pendapatnya tentang mimik mukaku yang aneh, karena aku sibuk mengingatkan diriku sendiri agar berhati-hati. Jika lengah sedikit, salah-salah aku bisa jatuh cinta lagi padanya. Ya, aku sempat dibuat mabuk kepayang oleh wanita ini. Beragam rumus dan jurus cinta aku implementasikan agar mendapat acc untuk mencapai posisi strategis: menjadi pacarnya!
Pertama. Aku menyatakan cinta dalam bentuk puisi. Puisi itu kubuat semalam suntuk, khusus untuk menyatakan cintaku padanya. Namun semua kacau berantakan karena tubuhku gemetar melihat wajahnya yang manis tak terperi di bawah cahaya remang-remang. Jika Anda bosan dengan pacar Anda, cobalah mengajaknya makan malam romantis, dan biarkan sebatang lilin bekerja untuk Anda. Pendaran cahaya lilin akan membuat pacar Anda lebih cantik dari biasanya. Jika Anda sudah memakai lilin dan pacar Anda tetap saja jelek, cobalah pinjam kacamata minus milik teman Anda, sambil berharap bahwa efek blur dapat sedikit mengurangi kejelekannya.
Kedua. Belajar dari pengalaman sebelumnya, sebuah puisi tak sanggup menyentuh hati seorang wanita. Maka aku memberinya tidak hanya satu atau dua puisi, namun sekaligus sebuah buku kumpulan puisi tentangnya. Waktu itu aku berpikir bahwa wanita manapun pasti akan luluh jika mendapatkan penghargaan paling tinggi yang sanggup diberikan oleh seorang lelaki romantis: sebuah antologi puisi! Tapi dasar pikun, setelah ngobrol banyak, memberikan buku puisi dahsyat itu, dan mengantarnya pulang, aku justru lupa menembaknya! Padahal, presentasi cinta yang dilakukan tanpa tembakan follow up, takkan menghasilkan transaksi cinta!
Ketiga. Karena frustasi, aku mulai serius dan bersikap profesional seperti banyak sarjana nganggur di Indonesia, membuat surat lamaran dengan lampiran lengkap. Beginilah isi surat lamaran itu:
----------
Dengan hormat,
Berdasarkan informasi pesan singkat (sms) dari nomor ponsel Anda tanggal 7 Oktober 2007, bahwa Anda membuka lowongan, maka dengan ini saya menyatakan ketertarikan dan keinginan saya untuk bergabung menjadi seorang Pacar. Saya berkeyakinan pengetahuan dan kemampuan yang saya miliki sesuai dengan kriteria yang Anda butuhkan.
Nama saya Sahid Kusuma Wijaya (22 Th), jomblo, belum menikah, Mahasiswa Ekonomi Manajemen Universitas Brawijaya dengan konsentrasi Pemasaran. Saya mampu mengoperasikan sepeda motor, berbahasa Jawa, Indonesia dan Inggris baik lisan maupun tulisan, dan memiliki pengetahuan yang luas. Saya juga mampu bekerja keras, sabar, penyayang, pengertian, dan memiliki motivasi serta kemauan untuk belajar menjadi pacar yang baik.
Sebagai bahan pertimbangan, bersama ini saya lampirkan: Daftar riwayat hidup, ijasah terakhir, transkrip nilai terakhir, dan pas foto terbaru serta sertifikat-sertifikat.
Besar harapan saya untuk diberi kesempatan mengikuti tes atau wawancara yang akan dilakukan oleh Anda. Saya akan memberikan kemampuan terbaik yang saya miliki. Atas perhatiannya, saya ucapkan banyak terima kasih.
Hormat saya,
Sahid Kusuma Wijaya
----------
Wanita, oh wanita... Membaca surat lamaran itu ia malah tertawa. Sungguh tidak menghargai keseriusan seorang lelaki sama sekali!
Kamarku Mati Lampu: Mahasiswa, Uang dan Politik Kampung (Bagian 6)
”Selamat pagi, dengan Pak Sahid? Saya Reza dari Pola Cup, Pak,” suara ini sudah tidak asing lagi di telingaku. Beberapa waktu lalu aku menghubungi Pola Cup, sebuah packaging company terkemuka di Jakarta yang telah memasok kebutuhan pengemasan makanan dan minuman bagi banyak perusahaan waralaba dan maskapai penerbangan regional. Namun karena pulsa anak kos sangat terbatas, pembicaraan waktu itu tiba-tiba terputus. Bikin malu saja.
”Iya benar Pak Reza, ini Sahid,” aku sedikit nervous berbicara dengan orang Jakarta. Aku membayangkan bahwa orang Jakarta pasti mengalami kehidupan dan persaingan keras yang memaksa mereka untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, sehingga mereka dapat dikatakan sebagai tipikal orang-orang yang menghargai waktu dan memiliki produktivitas tinggi. Kontras sekali denganku. Waktuku banyak kuhabiskan di atas kasur dan produktivitasku untuk bermimpi!
”Tempo hari Bapak menanyakan harga cup, bisa saya bantu, Bapak membutuhkan cup dengan ukuran berapa?” Ternyata orang Jakarta itu hebat. Bicaranya to the point, lugas dan jelas. Kota sekali!
”Betul Pak Reza, saya sedang mencari informasi tentang harga cup dan lids yang diproduksi oleh perusahaan Anda. Saya mempertimbangkan untuk menggunakan cold cup ukuran 12 oz dan 16 oz beserta lids, dan hot cup single wall ukuran 9 oz beserta lids,” jawabku dengan tak kalah kotanya. Namun karena dibuat-buat, nada bicaraku jadi terdengar sedikit aneh.
”Oh, kalau begitu saya kirim lewat fax saja ya Pak? Nomer fax Pak Sahid berapa?”
”Wah, tidak pu... nya...,” ujarku memelas. Sudah lama aku tidak berhubungan dengan mesin faksimili. Terakhir kali adalah bertahun-tahun yang lalu, ketika aku masih aktif di sebuah perusahaan Networking dari Bali. Aku menggunakannya setiap hari untuk mengirimkan data distributor baru di bawah jaringanku.
Alhasil, pak Reza harus membacakan daftar harga, dan aku menuliskannya kembali di atas selembar kertas. Tidak apa, yang ini juga tidak kalah dengan mesin faksimili.
Pembicaraan sudah berakhir dari tadi, namun aku masih terpaku pada daftar harga yang diberikan pak Reza. Aku pusing dibuatnya. Karena menulis dengan tergesa-gesa, tulisanku jadi tidak terbaca...
Friday, May 30, 2008
Kamarku Mati Lampu: Mahasiswa, Uang dan Politik Kampung (Bagian 5)
”Hadirin sekalian,” tiba-tiba suara MC menarik perhatian seluruh peserta seminar yang tidak sabar untuk segera bertemu dengan pengusaha muda itu.
”Bagi yang masih ada di luar, mohon segera memasuki ruangan dan duduk di tempat yang sudah disediakan, karena acara akan segera dimulai.” MC itu pasti punya masalah dengan penglihatannya. Apa dia tidak melihat bahwa ruangan ini sudah penuh, demikian sesak oleh mahasiswa yang begitu penasaran dengan pembicara seminar ini.
MC itu semangat sekali, terlihat benar bahwa dia sendiri juga tidak sabar ingin segera memperkenalkan sosok pembicara seminar ini kepada para hadirin.
”Hadirin yang berbahagia, selamat datang di acara Seminar Sukses Pengusaha Muda Universitas Brawijaya 2008!” penyambutan MC itu membuat para peserta demikian antusias, bertepuk tangan begitu meriah.
Kemudian MC memberikan penjelasan singkat mengenai sejarah dan tujuan seminar ini. Seminar sukses ini diadakan setiap tahun untuk mengapresiasi para pengusaha muda yang telah berjuang merintis dan menjalankan bisnisnya hingga akhirnya mencapai kesuksesan. Diharapkan seminar ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa Universitas Brawijaya untuk menjadi pengusaha, menjadi entrepreneur!
Tiba-tiba lampu dimatikan, digantikan cahaya lampu sorot yang menari-nari kesana-kemari. Beberapa saat kemudian terdengarlah alunan musik kolosal Santorini yang megah, membangkitkan semangat setiap orang yang ada di rungan ini.
”Hadirin mohon berdiri, karena sesaat lagi pembicara akan memasuki ruangan...”
Peserta seminar pun berdiri, penuh semangat di tengah alunan Santorini yang semakin membahana. Mereka bertepuk tangan, terbawa aura positif yang memenuhi seluruh ruangan.
”Hadirin sekalian, mari kita sambut pembicara kita...”
Dari sisi kanan panggung, muncullah orang hebat itu, yang sedari tadi dinantikan kehadirannya oleh para peserta seminar ini. Sosoknya tidak terlihat dengan jelas karena terhalang oleh suasana remang-remang dan hanya sesekali dihampiri cahaya lampu sorot. Namun tetap saja, orang itu terlihat penuh semangat dan melambaikan tangannya kepada semua orang. Tepuk tangan semakin membahana, bahkan sebagian mahasiswi berteriak histeris.
”Sahid Kusuma Wijaya!” sambung MC menyebut nama pembicara itu dengan mantap.
Pembicara itu melangkah diiringi dentuman Santorini yang membangkitkan semangat, di bawah cahaya lampu sorot yang mengekspose wajahnya yang rupawan. Sungguh keren sekali! Seorang mahasiswi sampai pingsan dibuatnya.
Namun tiba-tiba pandanganku gelap. Suasana berubah senyap. Tidak ada lagi musik Santorini. Tidak ada lagi teriakan histeris mahasiswi. Aku sudah membuka mataku lebar-lebar, namun yang ada hanya gelap. Seperti terpojok di ruangan yang pengap. Ah, aku tahu... Ini kamarku yang mati lampu!
Kamarku Mati Lampu: Mahasiswa, Uang dan Politik Kampung (Bagian 4)
Ketika aku masih SMU, tidak masuk kelas adalah sebuah aib. Namun bagi sebagian mahasiswa, tidaklah afdhol jika seorang mahasiswa belum pernah bolos, titip absen ataupun membuat surat sakit. Kita bebas memakai pakaian apapun yang kita mau untuk mengekspresikan diri kita. Kita bebas menghabiskan waktu kita untuk kegiatan apapun. Apakah dosen peduli? Tidak! Tahu-tahu IP merosot tajam. Sebagai mahasiswa, kita sendirilah yang menentukan kegiatan kita, tanpa aturan yang kaku seperti di SMU. You chooses your own destiny! Termasuk dalam hal waktu. Dan beginilah cara kami orang-orang kampung menghabiskan waktu.
Sebenarnya aku malu menceritakan keadaan kami. Andi, entah setan apa yang merasuki otaknya. Setiap kali ada kaum hawa dengan penampilan di atas rata-rata, matanya seperti jarum kompas yang tak pernah lepas dari medan magnet. Segala jurus rayuan gombal kelas kampung dikerahkannya, tak peduli apa kata orang. Barangkali itu memang pembawaan sejak lahir.
Sementara Azhar, belakangan ini dia menggemari friendster. Aku jadi curiga, hoby barunya ini akibat gadis pujaannya aktif di situs jejaring sosial itu. Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan hoby barunya ini, tapi yang membuatku jengkel adalah dia selalu menyebut FS (friendster) dengan VS! Mungkin dia tidak sadar jika ucapannya bisa membuat jatuh harga dirinya dan orang-orang yang duduk di sebelahnya.
Siang itu kami bertiga akan mengakses internet di gazebo fakultas kami. Entah mengapa semua orang menyebutnya gazebo, pemahamanku gazebo adalah sebuah dimensi ruang berupa shelter sederhana yang dilengkapi dengan konstruksi atap di atasnya. Mungkin tempat ini disebut gazebo karena teduh dan nyaman, sebab sinar matahari terhalang oleh rimbunnya pepohonan. Maka tempat ini pun ramai dikunjungi mahasiswa fakultas kami, salah satu fakultas yang dipenuhi oleh muda-mudi keren, gaul dan modis. Dan di tempat inilah nantinya aku akan mengalami salah satu pengalaman paling memalukan sepanjang hidup.
Azhar sedang ada keperluan, nanti menyusul katanya. Maka aku dan Andy mencari tempat yang nyaman untuk menjalani ritual kami. Namun tiba-tiba Andy menyusul Azhar dan dia memintaku untuk menghidupkan laptop terlebih dahulu. Maka tinggallah aku sendiri, membuka tas laptop keramat milik azhar. Ketika tas itu terbuka, aku mendapati bahwa laptop itu terbungkus tas kresek merah. Aku bingung, untuk apa laptop itu dibungus tas kresek merah. Aku mencoba mengeluarkan laptop tanpa tas kreseknya, tapi susahnya bukan main. Tampaknya pengemasan laptop ini didesain sedemikian rupa oleh Azhar sehingga penggunanya diharuskan melalui dua tahap, yaitu mengeluarkan laptop yang dibungkus kresek dari dalam tas, kemudian barulah tas kresek itu bisa dibuka. Membuka barang keramat itu di tempat seperti ini sama saja cari mati. Aku hanya bisa mengumpat dalam hati.
Akupun mengeluarkan laptop itu dengan hati-hati dan berharap tidak ada yang memperhatikanku. Namun karena tergesa-gesa, timbullah bunyi berisik tas kresek itu. Dan hasilnya... Terdengarlah suara cekikikan gadis-gadis muda yang duduk tidak jauh dariku. Aah, aku malu setengah mati. Harga diriku... Pertahanan diri terakhirku sebagai laki-laki langsung runtuh seketika. Rasa-rasanya ingin melompat ke dalam selokan di belakangku dan baru keluar pada malam hari saat kampus sudah sepi. Sialan, rupanya Andy sudah mengetahui kebiasaan Azhar membungkus laptop dengan tas kresek, dan dia memilih untuk menyelamatkan muka.
Aku jadi membayangkan, semakin malulah kami jika Azhar yang memimpin ritual friendsteran ini. Mungkin akan begini kejadiannya. Di depan orang yang lalu-lalang, dengan penuh percaya diri dia membuka tas laptopnya, mengeluarkan laptop kesayangan yang dibungkus tas kresek merah, maka keluarlah bunyi khas yang menarik perhatian semua orang: ”krusek, krusek, krusek...”
Kemudian dengan gaya berapi-api seperti bung Tomo yang mengajak berjuang dan mengobarkan semangat para pemuda, dia pun berteriak lantang: ”Ve-es-an yoooh...!!!”
Friday, May 23, 2008
Kamarku Mati Lampu: Mahasiswa, Uang dan Politik Kampung (Bagian 3)
Tapi bukan kasur busa itu yang membuatku lesu malam ini, melainkan karena kamarku mati lampu. Bukan, lebih tepatnya tidak ada lampu di kamarku. Berbekal kemampuan elektronika sederhana hasil mengikuti ekstrakulikuler selama tiga tahun di SMP, aku memindahkan lampu beserta instalasi listrik dari kamarku ke pinggir jalan depan rumah. Jika bukan karena dompet sekarat, aku tidak akan mau repot-repot melakukannya, lebih baik membeli lampu baru. Semua ini gara-gara PLN yang mencabut lampu-lampu jalan di kampungku. Akibatnya hasil rapat RT mewajibkan setiap warga untuk memasang lampu di depan rumah. Huh, padahal setiap bulan kami membayar pajak penerangan jalan kepada PLN, yang bisanya hanya menyusahkan negara dan rakyat. Tidak heran jika perusahaan itu kini mendapat predikat sebagai BUMN yang menyumbang kerugian terbesar bagi negara!
Malam itu samar-samar kudengar para tetangga sedang membicarakanku. Aku tidak tahu pasti apa yang mereka bicarakan, tapi kemudian aku yakin bahwa pembahasan mereka tidak jauh-jauh dari lampu, karena malam berikutnya jalan di sekitar kontrakanku menjadi terang benderang, setelah tetangga kiri kananku turut memasang lampu di depan rumah mereka. Ah, sejenak aku merasa seperti Gold Roger yang memicu era bajak laut One Piece. Aku seperti seorang jounin yang menggetarkan hati para murid akademi ninja dalam cerita Naruto. Aku mempopulerkan lampu penerangan jalan! Bukan main...
Kamarku Mati Lampu: Mahasiswa, Uang dan Politik Kampung (Bagian 2)
Sudah tiga hari sejak pemilik rumah kontrakanku memintaku membeli lampu untuk dipasang di depan rumah. Pak Samsul nama orang itu, dan ia mengontrakkan rumahnya agar anaknya dapat terus bersekolah, sementara ia tinggal di rumahnya yang satu lagi, tidak jauh dari rumah kontrakanku.
Aku tak segera membeli lampu. Toh, tetangga kiri kananku tidak ada yang memasang lampu sama sekali. Mungkin karena sekarang adalah akhir bulan, dimana masyarakat kampung sedang giat-giatnya menjalankan sebuah program yang belakangan menjadi poluler: mengencangkan ikat pinggang! Jika Anda adalah Ketua RT dan ingin jabatan Anda bertahan lama, janganlah membuat program yang aneh-aneh di akhir bulan! Tapi toh siapa yang ingin berlama-lama menjadi Ketua RT?
Tiga hari ini aku seperti kaum urban yang harus berangkat pagi-pagi dan baru pulang ketika orang-orang tertidur lelap karena rumahnya di luar kota sangat jauh dari tempatnya bekerja di pusat kota. Padahal kampusku berjarak hanya 500 meter dari kontrakanku, berjalan kaki pun hanya memerlukan waktu 15 menit saja! Semua ini bukan supaya terlihat keren dan berkesan serius berjuang meraih pendidikan, melainkan demi menghindar dari pak Samsul, karena bujuk rayunya pasti akan meluluhkan hatiku untuk menghabiskan sisa uang di dompetku guna membeli sebuah lampu. Ah, membayangkannya saja aku ngeri...
Tuhan memang mengabulkan doaku, aku tidak pernah bertemu sama sekali dengan pak Samsul. Namun dasar nasib: tak ada rotan, akar pun jadi.
”Mas Sahid kok nggak pernah kelihatan?” suara itu tiba-tiba mengagetkanku. Aduh, suara ini... Sepertinya aku akrab sekali dengan suara ini. Dan benar saja, ketika aku menoleh ke sumber suara itu, ada bu Samsul! Matanya bulat tanda senang bukan main, seperti burung hantu menemukan mangsanya. Pandangannya seolah berkata, ”Aha, mau lari kemana Kau anak muda?!”
”Ah... I.. Iya ya Bu, kok nggak pernah kelihatan ya?” jawabku ngawur. ”Saya terburu-buru Bu, ada kuliah pagi. Mari Bu,” sambungku cepat karena ingin segera kabur.
”Oh iya, jangan lupa beli lampu, ntar keburu ditegur pak RT lho...,” mimik muka bu Samsul serius. Kali ini mangsanya tak berkutik.
”He... Iya Bu. Kalau begitu, saya berangkat dulu ya Bu,” senyumku kecut. Tak perlu aku bercermin, aku tahu pasti senyumku kecut!
”Hati-hati di jalan ya Mas Sahid,” ujar istri pemilik kontrakanku dengan senyuman penuh kemenangan.
”Ah, Ibu tidak perlu mengkhawatirkan perjalananku. Jika aku jadi membeli lampu, maka yang perlu dikhawatirkan adalah isi dompetku, juga perutku!” Yang benar saja, tidak berani aku bicara terus terang seperti itu. Konsekuensinya akan sangat mengerikan: jika tidak diusir secara terang-terangan hari ini juga, bisa-bisa sewa rumah kontrakanku bakal dinaikkan dua kali lipat tahun depan!
Wednesday, April 16, 2008
Kamarku Mati Lampu: Mahasiswa, Uang dan Politik Kampung (Bagian 1)
Hari beranjak gelap. Matahari sudah minggat sejak pukul setengah enam tadi. Mungkin merajuk karena banyak manusia, terutama gadis-gadis muda yang takut sinar matahari, mengeluh gerah dan kepanasan saat mereka beraktivitas, padahal matahari sudah capek-capek menyinari bumi seharian tadi. ”Bah! Masih untung aku mau lewat di atasmu, sehingga kamu bisa melihat dan beraktivitas dengan baik. Coba kalau aku tidak ada, jangankan mengoleskan pemutih di atas kulitmu, mengetahui warna kulitmu pun kau tak akan bisa!” begitu barangkali yang akan dikatakannya jika Matahari diberi kesempatan berbicara.
Aku tak peduli dengan apa yang dipikirkan gadis-gadis muda itu. Aku juga tak mau ambil pusing dengan celaan matahari. Pikiranku sibuk dengan lampu depan motorku yang mati sejak beberapa hari yang lalu. Menyusuri jalan-jalan kampung di malam hari tanpa lampu adalah perkara yang menyusahkan buatku. Bukan karena resiko menabrak orang atau takut dimarahi penduduk kampung, namun aku jadi tidak bisa melihat dengan jelas wajah gadis-gadis muda itu. Biasanya dengan cuci mata, pikiranku tak lagi buntu.
Walaupun aku cukup terganggu dengan matinya lampu motorku, aku tak segera membeli lampu baru. Dengan lampu motor yang mati, aku jadi punya alasan untuk nebeng atau diantar jemput teman-teman jika ada kegiatan bersama di malam hari. Melanggar peraturan lalu-lintas adalah pantangan buatku. Teman-temanku sampai bosan mendengar ocehanku: ”Kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh seberapa banyak warga negaranya yang patuh terhadap hukum”. Maka mereka terpaksa menjadi tukang ojek kalau ingin mengajakku pergi di malam hari. Jika Anda ingin ada terobosan dalam hal penghematan anggaran BBM, ikutilah saran konyol saya: buanglah lampu depan motor Anda!
Perkara membeli lampu baru sebenarnya tidak jauh-jauh dari masalah duit. Bulan ini pengeluaranku banyak sekali, sehingga memaksaku menggenjot penjualan jasa penerjemahan. Jasa penerjemahan Sahid & Rekan memang sedang kebanjiran order, sampai-sampai aku perlu turun tangan mengerjakan penerjemahan karena tiga orang staf ternyata tidak sanggup menyelesaikan seluruh permintaan.
Tetap saja, penghasilan dari jasa penerjemahan itu tidak dapat menutupi pengeluaran bulan ini. Aku sempat berpikir untuk meminta kiriman uang dari orang tua, tapi aku segera membuang jauh-jauh pikiran itu. Bukan karena orang tuaku tak sayang padaku sampai-sampai meminta tambahan uang pun tak dikasih. Justru aku khawatir dengan rasa sayang orang tua kepada anak. Demi membahagiakan anaknya, banyak orang tua yang mengabulkan permintaan barang yang aneh-aneh dari anaknya. Jika duit sendiri tak cukup, tenang saja, masih ada uang perusahaan. Aku tak habis pikir dengan gaya hidup sebagian teman-temanku yang suka meminta-minta pada orang tua. Apakah mereka tidak takut jika nantinya orang tua mereka korupsi?
Aku masih sibuk memikirkan lampu motorku ketika aku sampai di depan kontrakanku. Aku begitu sentimen pada lampu, hingga aku sampai pada satu kesimpulan: karena tidak ada anggaran, bulan ini aku tak mau membeli lampu. Bukan hanya lampu motor, aku juga tak mau membeli lampu senter, lampu rumah atau lampu-lampu yang lain. Bahkan, malam ini aku berencana langsung tidur dan tak mau menyentuh saklar-saklar lampu di rumahku. Aku tak mau membeli lampu dan tak mau berurusan dengan lampu!
Ketika aku membuka pintu kontrakanku, tiba-tiba sang empunya rumah datang menghampiriku.
”Mas Sahid, kemarin ada rapat RT. Karena lampu-lampu jalan sudah diputus oleh PLN, maka setiap rumah harus memasang lampu di depan rumah. Mas Sahid jangan lupa besok beli lampu ya!” ujarnya dengan tersenyum manis tanpa perasaan bersalah. Dan kepalaku pun pening.
Bersambung...