Ada yang bilang kalau unfriend itu tindakan kurang dewasa, kayak anak SMP aja. Dibilang, unfriend itu memutus silaturahmi.
Tapi bisa jadi, unfriend adalah bahasa hati. Unfriend adalah ungkapan, bahwa
karena waktu tidak bisa diulang, maka kamu ingin melupakan semua. Bahwa
karena cinta tidak harus memiliki, maka kamu ingin menjaga perasaanmu
sendiri.
Tapi unfriend tetaplah unfriend. Bersiaplah membuat
orang lain merasa bersalah, atau mungkin juga marah. Maka janganlah menjadi
minyak dalam api. Berdoa saja suatu saat api itu akan padam, sukur-sukur
bisa kembali menyejukkan hati. Siapa tahu.
Showing posts with label cerita serius. Show all posts
Showing posts with label cerita serius. Show all posts
Sunday, July 28, 2013
Tuesday, March 23, 2010
Seragu senyum tipis yang biasa kautunjukkan dengan susah
Seperti senyum tipis yang biasa kautunjukkan dengan susah. Sesulit itulah aku mengingat-ingat kapan kita berpisah. Mungkin setahun sudah.
Sepotong pesan ataupun wall post takkan mampu menggantikan tatap muka. Aku rindu menatap matamu. Mendengar gelak tawa renyah. Dan menikmati degup saat memperhatikan seraut wajah.
Ah, sebenarnya aku ragu. Seragu senyum tipis yang biasa kautunjukkan dengan susah. Entahlah...
Sepotong pesan ataupun wall post takkan mampu menggantikan tatap muka. Aku rindu menatap matamu. Mendengar gelak tawa renyah. Dan menikmati degup saat memperhatikan seraut wajah.
Ah, sebenarnya aku ragu. Seragu senyum tipis yang biasa kautunjukkan dengan susah. Entahlah...
Friday, November 28, 2008
Puasa yang nggak berkah!
Puasa, puasa..... Tapi kok banyak banget godaannya? Tadi pagi udah laper. Sampe siang sibuk kerja kelompok di kampus. Pusing... Kepala pening akibat tugas yang minta ampun susahnya! Mata ini dipaksa menikmati wajah-wajah cantik mahasiswi ekonomi. Aduh, Basement gedung E memang penuh godaan, huff.... Dan yang paling parah, dipampangin belahan dada dari jarak setengah meter! Astaghfirullah.. Aku langsung menutup mata memarahi temanku itu. Dan dia hanya tertawa cengengesan.
Aaaahhh, rusak, rusak.... Puasa hari ini rusak!
Aaaahhh, rusak, rusak.... Puasa hari ini rusak!
Tuesday, October 28, 2008
Rintik Hujan Sore Itu
Aku sedang duduk menunggu fotokopi ketika gadis itu datang kemari. Tempat foto kopi ini memang ramai dikunjungi mahasiswa fakultas kami, namun hari ini tampak lengang. Mungkin karena hari sudah menjelang sore dan langit tampak gelap, sehingga banyak mahasiswa yang memilih untuk pulang.
"Hai, Sahid! Lg nunggu fotokopi yah?" gadis ini menyapaku dengan senyum manisnya. Gadis ini selalu tampak ceria. Entah terbuat dari apa hatinya, gadis ini selalu pandai menyenangkan orang lain. Senyuman tak pernah lepas dari wajahnya, dan bibirnya tak pernah berhenti meluncurkan celotehan jenaka seperti anak kecil, lucu sekali. Paling tidak ia bisa memaksaku tersenyum saat hatiku sedang gundah. Ya, akhir-akhir ini hidupku terasa susah. Anganku serasa terbang ke atas awan, namun hatiku seolah terpenjara di dasar lautan. Aku menjalani malam-malam penuh gelisah. Inilah tipikal lelaki muda yang sedang jatuh cinta.
Sudah satu bulan ini aku tak tahan untuk menumpahkan perasaanku, walaupun hanya kepada pena dan kertas. Melalui puisi-puisi kuungkapkan isi hati. Entah mengapa aku memilih puisi. Kata-kata itu meluncur begitu saja, seperti aku yang tiba-tiba jatuh cinta. Tapi seorang penyair pernah berkata, puisi bisa jadi adalah ungkapan hati yang tak ingin diketahui oleh orang lain. Dengan puisi yang sarat makna dan ambigu, orang lain tak akan tahu siapa gadis yang telah mencuri hatiku, hingga hari-hariku terasa penuh sekaligus hampa. Penuh karena setiap hari terbayang-bayang wajahnya, namun hampa karena jiwaku telah diambilnya.
Bidadari. Hanya itulah petunjuk yang secara eksplisit tertera dalam puisiku tentangnya. Teman-temanku penasaran dengan sosok bidadari yang muncul dalam setiap tulisanku. Dalam puisi, dalam coret-coretan di buku, bahkan dalam edaran kelas. Waktu itu aku membagikan sebuah edaran mengenai informasi sebuah mata kuliah. Aku senang sekali karena akhirnya tugasku sebagai ketua kelas mata kuliah itu telah kuselesaikan dengan baik, meskipun sungguh berat dan menyita waktu. Maka aku merasa perlu untuk menuliskan daftar orang-orang yang harus mendapatkan ucapan terimakasih dariku, mulai dari penjual lalapan ayam di dekat kosku, penjaga rental komputer, teman-teman yang menemaniku begadang, dan tentu saja bidadari. dalam edaran itu aku tuliskan: Bidadari, engkau adalah hal kedua setelah mata kuliah ini yang membuatku tak bisa tidur!
Ketika edaran itu sampai di tangannya, aku memperhatikannya dengan serius. Aku tak ingin kehilangan setiap detik, bahkan kedipan mataku sekalipun. Agak lama ia membaca edaran itu. Tampaknya ia membaca semua tulisanku. Tiba-tiba ia bereaksi. Aku tahu, ia menahan tawa. Namun ia tak bisa menyembunyikan senyumnya yang jenaka. manis sekali. Lalu ia menuliskan sesuatu di atas edaran itu. Dan ketika edaran itu kembali kepadaku, di atas kata "bidadari" ia menuliskan kata-kata ini: "Aku ya?". Membaca tulisan itu, aku kaget bukan main. Sejak saat itu, aku merasa rikuh jika berada dekat dengannya. Namun demikian, sikapnya terhadapku tak pernah berubah, bahkan belakangan ini perhatiannya padaku semakin bertambah.
*
Awan semakin gelap. Suasana semakin senyap. Kampus ini sudah sepi, namun gadis di sebelahku ini masih ramai sekali. Ia membicarakan semua yang ada di dalam benaknya. Aku mendengarkan dengan sungguh-sungguh sambil sesekali menjawab pertanyaannya. Apa lagi yang lebih menarik perhatian lelaki yang sedang jatuh cinta ini selain gadis yang sedang duduk di sebelahnya?
Tiba-tiba, ia menyinggung tentang bidadari. Ia menanyakan siapakah bidadari yang selama ini menghiasi setiap puisi. Aku berusaha mengalihkan pembicaraan, namun ia sungguh antusias ingin membuatku membongkar sebuah rahasia. Aku pun terdiam. Aku tak tahu harus bicara apa. Aku hanya memandangnya, dan dia hanya memandangku. Waktu seolah berjalan lambat sekali, sementara aku tak bisa berpikir lagi. Aku tak bisa merasakan apa-apa selain suara jantungku yang berdetak kian kencang.
Saat itulah, tiba-tiba turun rintik hujan. Pandangan kami berdua beralih ke depan. Aku melihat butir-butir air membasahi rerumputan hijau, dan jatuh pula di atas bunga-bunga yang menghiasi taman di depanku. Pemandangan yang sangat indah. Aku bangkit berdiri dan melangkah perlahan ke depan, lalu duduk di teras. Dengan demikian aku bisa merasakan butir-butir air menerpa telapak tangan yang kujulurkan ke depan. Dia mengikutiku, duduk di sebelahku. Wajahnya sungguh menunjukkan rasa ingin tahu yang teramat sangat.
"Siapa..." dia bertanya sekali lagi, mengharapkan sebuah nama keluar dari bibirku. Ia sungguh penasaran, seolah tak yakin bahwa selama ini dialah bidadari itu.
Aku memang pernah jatuh cinta, tapi sebelumnya aku tak pernah mengungkapkan cinta pada seorang gadis. Tapi hari ini, di tengah rintik hujan yang baru saja turun dan perlahan membasahi taman bunga di depanku, gadis manis ini duduk di sebelahku. Gadis yang aku suka sejak lama. Aku merenung sejenak, berusaha menjawab sebuah pertanyaan: inikah waktunya?
"Hai, Sahid! Lg nunggu fotokopi yah?" gadis ini menyapaku dengan senyum manisnya. Gadis ini selalu tampak ceria. Entah terbuat dari apa hatinya, gadis ini selalu pandai menyenangkan orang lain. Senyuman tak pernah lepas dari wajahnya, dan bibirnya tak pernah berhenti meluncurkan celotehan jenaka seperti anak kecil, lucu sekali. Paling tidak ia bisa memaksaku tersenyum saat hatiku sedang gundah. Ya, akhir-akhir ini hidupku terasa susah. Anganku serasa terbang ke atas awan, namun hatiku seolah terpenjara di dasar lautan. Aku menjalani malam-malam penuh gelisah. Inilah tipikal lelaki muda yang sedang jatuh cinta.
Sudah satu bulan ini aku tak tahan untuk menumpahkan perasaanku, walaupun hanya kepada pena dan kertas. Melalui puisi-puisi kuungkapkan isi hati. Entah mengapa aku memilih puisi. Kata-kata itu meluncur begitu saja, seperti aku yang tiba-tiba jatuh cinta. Tapi seorang penyair pernah berkata, puisi bisa jadi adalah ungkapan hati yang tak ingin diketahui oleh orang lain. Dengan puisi yang sarat makna dan ambigu, orang lain tak akan tahu siapa gadis yang telah mencuri hatiku, hingga hari-hariku terasa penuh sekaligus hampa. Penuh karena setiap hari terbayang-bayang wajahnya, namun hampa karena jiwaku telah diambilnya.
Bidadari. Hanya itulah petunjuk yang secara eksplisit tertera dalam puisiku tentangnya. Teman-temanku penasaran dengan sosok bidadari yang muncul dalam setiap tulisanku. Dalam puisi, dalam coret-coretan di buku, bahkan dalam edaran kelas. Waktu itu aku membagikan sebuah edaran mengenai informasi sebuah mata kuliah. Aku senang sekali karena akhirnya tugasku sebagai ketua kelas mata kuliah itu telah kuselesaikan dengan baik, meskipun sungguh berat dan menyita waktu. Maka aku merasa perlu untuk menuliskan daftar orang-orang yang harus mendapatkan ucapan terimakasih dariku, mulai dari penjual lalapan ayam di dekat kosku, penjaga rental komputer, teman-teman yang menemaniku begadang, dan tentu saja bidadari. dalam edaran itu aku tuliskan: Bidadari, engkau adalah hal kedua setelah mata kuliah ini yang membuatku tak bisa tidur!
Ketika edaran itu sampai di tangannya, aku memperhatikannya dengan serius. Aku tak ingin kehilangan setiap detik, bahkan kedipan mataku sekalipun. Agak lama ia membaca edaran itu. Tampaknya ia membaca semua tulisanku. Tiba-tiba ia bereaksi. Aku tahu, ia menahan tawa. Namun ia tak bisa menyembunyikan senyumnya yang jenaka. manis sekali. Lalu ia menuliskan sesuatu di atas edaran itu. Dan ketika edaran itu kembali kepadaku, di atas kata "bidadari" ia menuliskan kata-kata ini: "Aku ya?". Membaca tulisan itu, aku kaget bukan main. Sejak saat itu, aku merasa rikuh jika berada dekat dengannya. Namun demikian, sikapnya terhadapku tak pernah berubah, bahkan belakangan ini perhatiannya padaku semakin bertambah.
*
Awan semakin gelap. Suasana semakin senyap. Kampus ini sudah sepi, namun gadis di sebelahku ini masih ramai sekali. Ia membicarakan semua yang ada di dalam benaknya. Aku mendengarkan dengan sungguh-sungguh sambil sesekali menjawab pertanyaannya. Apa lagi yang lebih menarik perhatian lelaki yang sedang jatuh cinta ini selain gadis yang sedang duduk di sebelahnya?
Tiba-tiba, ia menyinggung tentang bidadari. Ia menanyakan siapakah bidadari yang selama ini menghiasi setiap puisi. Aku berusaha mengalihkan pembicaraan, namun ia sungguh antusias ingin membuatku membongkar sebuah rahasia. Aku pun terdiam. Aku tak tahu harus bicara apa. Aku hanya memandangnya, dan dia hanya memandangku. Waktu seolah berjalan lambat sekali, sementara aku tak bisa berpikir lagi. Aku tak bisa merasakan apa-apa selain suara jantungku yang berdetak kian kencang.
Saat itulah, tiba-tiba turun rintik hujan. Pandangan kami berdua beralih ke depan. Aku melihat butir-butir air membasahi rerumputan hijau, dan jatuh pula di atas bunga-bunga yang menghiasi taman di depanku. Pemandangan yang sangat indah. Aku bangkit berdiri dan melangkah perlahan ke depan, lalu duduk di teras. Dengan demikian aku bisa merasakan butir-butir air menerpa telapak tangan yang kujulurkan ke depan. Dia mengikutiku, duduk di sebelahku. Wajahnya sungguh menunjukkan rasa ingin tahu yang teramat sangat.
"Siapa..." dia bertanya sekali lagi, mengharapkan sebuah nama keluar dari bibirku. Ia sungguh penasaran, seolah tak yakin bahwa selama ini dialah bidadari itu.
Aku memang pernah jatuh cinta, tapi sebelumnya aku tak pernah mengungkapkan cinta pada seorang gadis. Tapi hari ini, di tengah rintik hujan yang baru saja turun dan perlahan membasahi taman bunga di depanku, gadis manis ini duduk di sebelahku. Gadis yang aku suka sejak lama. Aku merenung sejenak, berusaha menjawab sebuah pertanyaan: inikah waktunya?
Tuesday, February 05, 2008
IP hebat atau lulus cepat? Atau dua-duanya?
Motorku langsung melaju dengan kencang sesaat setelah lampu hijau itu menyala. Aku melihat kaca spion sebelah kanan, dan tak ada satupun kendaraan yang bisa mendekati aku. Aku jauh di depan mereka. Sesaat aku narsis mengagumi kehebatanku menggeber motor suzuki smash 2004 yang jarang kucuci ini. Ya, aku meliuk-liuk di sela kemacetan jalan raya porong bagai pencopet ulung yang berlari menerobos keramaian pasar. Aku melesat cepat di luar kota pasuruan yang sejuk, bagai bintang jatuh berkelebat di tengah malam yang dingin menusuk. Tapi kekaguman dan kesenanganku sirna begitu saja ketika aku teringat sebuah hal yang sangat menyita perhatianku belakangan ini: Indeks Prestasi!
Aku langsung bosan dengan liburan ketika aku mengetahui IPku semester ini. Seandainya aku masih kuliah di teknik arsitektur, mungkin aku akan mengadakan syukuran saat memperoleh kabar baik ini. Tapi ini Fakultas Ekonomi, saudara. Anda tidak harus begadang berhari-hari hanya demi menyelamatkan diri dari IP rapido (rapido adalah pena teknik presisi tinggi dengan ukuran mulai 0.1mm, 0.2mm, 0.3mm, hingga 0.9mm. Jarang sekali mahasiswa teknik menggunakan rapido ukuran lebih dari 1mm. Sedangkan IP rapido adalah IP dibawah 1.0). Jika anda mahasiswa teknik, jangan protes jika mendapatkan IP rapido padahal anda sering begadang demi menyelesaikan tugas.
Selama aku menjadi mahasiswa teknik arsitektur, tidak pernah aku mendapat IP lebih dari 3. Rekorku adalah 2,98. sebuah angka yang mengesalkan, tapi tetap harus disyukuri. Aku masih ingat ketika seorang dosen memberikan nilai A+ dengan embel-embel kata "excellent" atas karyaku. Sebuah bidang lengkung yang disusun dari garis-garis tipis, membentuk shape kokoh nan megah. Juga sebuah rancangan rumah vila tropis dengan konstruksi kayu, yang harus kukerjakan selama dua semester demi mempertahankan sebuah idealisme: inovasi. Bentuk konstruksi yang sama sekali baru, rumit, dan elegan. Aku tidak rela ketika mendengar kabar bahwa kedua karyaku itu hilang. Di teknik arsitektur, nilai bagus hanya dapat dicapai dengan kreativitas, kerja keras, dan jam kerja tinggi.
Dan ketika aku pindah ke fakultas ekonomi, jujur saja, aku amat sangat terkejut. Aku seperti rakyat jelata yang terbebas dari kerja rodi. Tidak banyak pekerjaan yang aku lakukan. Sedikit membaca, sedikit membuat makalah, dan beberapa jam per hari di kampus (tidak tiap hari), aku sudah mendapatkan IP 3. Tanpa begadang, tanpa ketiduran di kampus, dan tanpa teriakan-teriakan frustasi di tengah malam. Itulah sebabnya aku sangat heran, mengapa banyak mahasiswa ekonomi yang merasa keberatan dengan kesibukan kuliahnya.
Mengukur kemampuanku, melihat IP yang kudapatkan, dan menatap jalan yang membentang, aku memutuskan untuk berjuang meraih IPK 3,5. Aku sadar, aku orang yang lemah, pernah mendapatkan ranking 53 dari 53 siswa waktu kelas 6 SD, beberapa kali mendapat angka merah dalam rapor SMU, ranking paling bawah di kelas dalam Ujian Akhir Nasional, tidak bisa akuntansi, dan prestasi tertinggiku hanyalah juara 2 kompetisi sitol di sekolah, dengan hadiah bebas SPP selama 3bulan (sitol adalah singkatan dari silang pentol, dalam bahasa inggris permainan ini disebut link 5).
Namun jika mengingat harga yang harus kubayar atas keputusanku untuk pindah jurusan, jika mengingat semua konsekuensi yang harus kuambil, jika mengingat semua yang aku korbankan, jika mengingat impian yang memenuhi rongga dada, jika mengingat bahwa waktu tak bisa kembali sehingga waktu begitu berharga, jika mengingat bahwa keyakinan dapat mengubah segalanya, jika mengingat kebesaran Tuhan, jika mengingat bapak ibuku, aku... seperti mendapatkan dorongan semangat yang luar biasa untuk mengerahkan segala potensi diri, yang aku yakin belum sepenuhnya tergali.
Jalan Soekarno Hatta. Aku melirik kaca spion motorku. Motorku melaju kencang, kendaraan di belakang semakin tertinggal dan mengecil dalam kaca spionku yang juga kecil. Seperti inikah waktu? berjalan cepat dan jika tak sigap aku akan tertinggal dan menjadi orang kecil? Aku memperlambat laju kendaraanku ketika aku sampai di depan sebuah kontrakan sederhana. Ada sebuah pamflet di kontrakan itu, yang bunyinya "SAHID & REKAN, spesialis penerjemahan INGGRIS - INDONESIA. Jl. Kertorahayu 21 Malang." Akupun tertawa dalam hati. Aku turun dari motor, dan aku berdiri. Lama sekali aku memandang rumah sederhana ini. Dengan ukuran kecil dan cat yang mulai mengelupas, yang akan kutinggali sendiri - karena penghuni lain sudah menyelesaikan studinya tahun ini. Bagaimanapun rumah kontrakan sederhana ini adalah sebuah kemewahan bagiku. Di dalamnya banyak fasilitas yang kubutuhkan untuk kesuksesan studi.
Dan sekarang, apa lagi yang dapat kukatakan selain ucapan terimakasih? Terimakasih untuk semua dosen yang memberiku nilai A dan B+, aku sangat terhibur. Untuk dosen yang memberikan nilai B, aku bingung karena ini adalah nilai yang tanggung - menyusahkanku saja. Untuk dosen yang memberikan nilai C+, terimakasih, Anda membakar semangat saya.
Untuk halim, femi, firda, chandra, yanuar helmi, anang, fariz, farid, dan masih banyak lagi, terimakasih untuk tahun pertama yang hebat dan menyenangkan di fakultas ekonomi. Kalian membuatku yakin dan tidak menyesali pilihanku untuk masuk fakultas ekonomi.
Untuk aan, reza yanuar, reza ngos, addin, anis, azhar, andy medunten, dana, pak kaji, harun, okta, eduardo, rudek, irwan, mabon, jabon, dan semua teman-teman manajemen 2005 baik yang kenal maupun yang tidak, yang (mohon maaf) tidak dapat saya tuliskan semua disini, terimakasih atas persahabatan dan bantuan selama ini. Tanpa kalian, aku tidak akan dapat meraih impianku. Dan aku sangat membutuhkan dukungan moril dari teman-teman semuanya.
Ayo teman-teman, bersama-sama kita berjuang meraih IP hebat dan lulus cepat, demi masa depan yang lebih baik. Kalian sudah gede, apa harus ibu yang menyemangati dan menemani kalian belajar? hehe.. Semangat!
Aku langsung bosan dengan liburan ketika aku mengetahui IPku semester ini. Seandainya aku masih kuliah di teknik arsitektur, mungkin aku akan mengadakan syukuran saat memperoleh kabar baik ini. Tapi ini Fakultas Ekonomi, saudara. Anda tidak harus begadang berhari-hari hanya demi menyelamatkan diri dari IP rapido (rapido adalah pena teknik presisi tinggi dengan ukuran mulai 0.1mm, 0.2mm, 0.3mm, hingga 0.9mm. Jarang sekali mahasiswa teknik menggunakan rapido ukuran lebih dari 1mm. Sedangkan IP rapido adalah IP dibawah 1.0). Jika anda mahasiswa teknik, jangan protes jika mendapatkan IP rapido padahal anda sering begadang demi menyelesaikan tugas.
Selama aku menjadi mahasiswa teknik arsitektur, tidak pernah aku mendapat IP lebih dari 3. Rekorku adalah 2,98. sebuah angka yang mengesalkan, tapi tetap harus disyukuri. Aku masih ingat ketika seorang dosen memberikan nilai A+ dengan embel-embel kata "excellent" atas karyaku. Sebuah bidang lengkung yang disusun dari garis-garis tipis, membentuk shape kokoh nan megah. Juga sebuah rancangan rumah vila tropis dengan konstruksi kayu, yang harus kukerjakan selama dua semester demi mempertahankan sebuah idealisme: inovasi. Bentuk konstruksi yang sama sekali baru, rumit, dan elegan. Aku tidak rela ketika mendengar kabar bahwa kedua karyaku itu hilang. Di teknik arsitektur, nilai bagus hanya dapat dicapai dengan kreativitas, kerja keras, dan jam kerja tinggi.
Dan ketika aku pindah ke fakultas ekonomi, jujur saja, aku amat sangat terkejut. Aku seperti rakyat jelata yang terbebas dari kerja rodi. Tidak banyak pekerjaan yang aku lakukan. Sedikit membaca, sedikit membuat makalah, dan beberapa jam per hari di kampus (tidak tiap hari), aku sudah mendapatkan IP 3. Tanpa begadang, tanpa ketiduran di kampus, dan tanpa teriakan-teriakan frustasi di tengah malam. Itulah sebabnya aku sangat heran, mengapa banyak mahasiswa ekonomi yang merasa keberatan dengan kesibukan kuliahnya.
Mengukur kemampuanku, melihat IP yang kudapatkan, dan menatap jalan yang membentang, aku memutuskan untuk berjuang meraih IPK 3,5. Aku sadar, aku orang yang lemah, pernah mendapatkan ranking 53 dari 53 siswa waktu kelas 6 SD, beberapa kali mendapat angka merah dalam rapor SMU, ranking paling bawah di kelas dalam Ujian Akhir Nasional, tidak bisa akuntansi, dan prestasi tertinggiku hanyalah juara 2 kompetisi sitol di sekolah, dengan hadiah bebas SPP selama 3bulan (sitol adalah singkatan dari silang pentol, dalam bahasa inggris permainan ini disebut link 5).
Namun jika mengingat harga yang harus kubayar atas keputusanku untuk pindah jurusan, jika mengingat semua konsekuensi yang harus kuambil, jika mengingat semua yang aku korbankan, jika mengingat impian yang memenuhi rongga dada, jika mengingat bahwa waktu tak bisa kembali sehingga waktu begitu berharga, jika mengingat bahwa keyakinan dapat mengubah segalanya, jika mengingat kebesaran Tuhan, jika mengingat bapak ibuku, aku... seperti mendapatkan dorongan semangat yang luar biasa untuk mengerahkan segala potensi diri, yang aku yakin belum sepenuhnya tergali.
Jalan Soekarno Hatta. Aku melirik kaca spion motorku. Motorku melaju kencang, kendaraan di belakang semakin tertinggal dan mengecil dalam kaca spionku yang juga kecil. Seperti inikah waktu? berjalan cepat dan jika tak sigap aku akan tertinggal dan menjadi orang kecil? Aku memperlambat laju kendaraanku ketika aku sampai di depan sebuah kontrakan sederhana. Ada sebuah pamflet di kontrakan itu, yang bunyinya "SAHID & REKAN, spesialis penerjemahan INGGRIS - INDONESIA. Jl. Kertorahayu 21 Malang." Akupun tertawa dalam hati. Aku turun dari motor, dan aku berdiri. Lama sekali aku memandang rumah sederhana ini. Dengan ukuran kecil dan cat yang mulai mengelupas, yang akan kutinggali sendiri - karena penghuni lain sudah menyelesaikan studinya tahun ini. Bagaimanapun rumah kontrakan sederhana ini adalah sebuah kemewahan bagiku. Di dalamnya banyak fasilitas yang kubutuhkan untuk kesuksesan studi.
Dan sekarang, apa lagi yang dapat kukatakan selain ucapan terimakasih? Terimakasih untuk semua dosen yang memberiku nilai A dan B+, aku sangat terhibur. Untuk dosen yang memberikan nilai B, aku bingung karena ini adalah nilai yang tanggung - menyusahkanku saja. Untuk dosen yang memberikan nilai C+, terimakasih, Anda membakar semangat saya.
Untuk halim, femi, firda, chandra, yanuar helmi, anang, fariz, farid, dan masih banyak lagi, terimakasih untuk tahun pertama yang hebat dan menyenangkan di fakultas ekonomi. Kalian membuatku yakin dan tidak menyesali pilihanku untuk masuk fakultas ekonomi.
Untuk aan, reza yanuar, reza ngos, addin, anis, azhar, andy medunten, dana, pak kaji, harun, okta, eduardo, rudek, irwan, mabon, jabon, dan semua teman-teman manajemen 2005 baik yang kenal maupun yang tidak, yang (mohon maaf) tidak dapat saya tuliskan semua disini, terimakasih atas persahabatan dan bantuan selama ini. Tanpa kalian, aku tidak akan dapat meraih impianku. Dan aku sangat membutuhkan dukungan moril dari teman-teman semuanya.
Ayo teman-teman, bersama-sama kita berjuang meraih IP hebat dan lulus cepat, demi masa depan yang lebih baik. Kalian sudah gede, apa harus ibu yang menyemangati dan menemani kalian belajar? hehe.. Semangat!
Tuesday, January 22, 2008
Saat-saat Aku Tenggelam dalam Lautan Asmara

Entah sejak kapan aku mulai memperhatikanmu. Aku seperti terbangun dari mimpi, tiba-tiba saja menyadari. Tak ada puisi, tak ada ungkapan hati. Tiba-tiba saja bayangmu datang dan pergi silih berganti, seperti hujan meteor yang kusaksikan tempo hari. Menimbulkan sensasi penuh cita rasa saat bayangmu datang menyapa dengan senyum manismu.
Sebelumnya aku memandangmu biasa - seperti yang lainnya. Tapi mengapa tiba-tiba aku menyimpan fotomu? Aku jadi malu... Mudah-mudahan ini bukan gejala jatuh cinta, karena aku tipe lelaki yang tak kuat menanggung rindu. Tapi jika nantinya hatiku tak bisa berkompromi, tidak apa. U're pretty enough. Dengan wajah manis dan keramahanmu, aku tak perlu sering-sering rekreasi untuk menenangkan hati - sudah ada kamu. Sebuah kompensasi yang menarik, bukan?
Sejujurnya tak banyak informasi yang kupunya tentangmu. Hanya kata "mas," yang jelas teringat di kepalaku - saat kau menyapaku. Memangnya tidak ada kata lain ya non? Banyak yang bisa kita bicarakan. Kita bisa mulai dengan cerita tentang suka duka menjadi diri kita yang sama-sama anak kedua paling manis dari tiga bersaudara.
Ternyata menghela nafas panjang tak bisa menyingkirkanmu dari pikiranku. Aku seperti di tengah lautan, di atas perahu yang bocor dimana-mana, telapak tanganku menyatu dan berusaha mengeluarkan air yang makin membanjiri perahu. Lelah aku mengusir luapan rindu yang datang bertubi-tubi. Lebih mudah membiarkan perahu penuh air dan menikmati saat-saat aku tenggelam dalam lautan asmara...
Kesuksesan ujian akhir semester tak membuat aku girang. Datangnya liburan tak segera membuatku ingin pulang. Ingin melihatmu sekali lagi. Berat rasanya ingin pergi. Seperti waktu itu, saat aku meninggalkanmu sendiri di malam yang gelap dan sepi, di bawah pohon palem di tengah-tengah fakultas ekonomi.
Sunday, December 09, 2007
suka duka SAHID & REKAN

beberapa minggu ini aq sibuk banget. usaha penerjemahan SAHID & REKAN udah mulai mendapatkan pelanggan. bahkan ada saat tertentu dimana aku harus memakai seluruh kapasitas, sehingga sempat sibuk mencari cadangan rekan translator. sekarang SAHID & REKAN berasosiasi dengan 5 freelance translator. senangnya...
memang banyak suka duka dalam menjalankan usaha jasa penerjemahan INGGRIS-INDONESIA ini. senangnya, aku bisa menambah kosakata bahasa inggris, menambah uang saku, dan membantu temen2 translator dalam mencari pelanggan. dukanya, jadi lebih sibuk dari sebelumnya. sedikit pusing dalam promosi penjualan dan negosiasi harga dengan freelance translator, dan yang membuat aku sedih, beberapa teman bereaksi negatif terhadap langkahku membuka usaha penerjemahan ini. aku benar2 tidak habis pikir...
btw, show must go on... ortuku bilang, lakukan sebanyak mungkin sebab-sebab kebaikan. karena sebab yang baik akan menjadi hasil yang baik, entah bagaimana prosesnya, entah apapun bentuknya. itu hukum alam. nah, karena aku yakin yang aku lakukan ini adalah hal yang baik, maka aku teruskan saja. karena aku yakin usahaku ini akan menjadi hasil yang baik, entah dalam bentuk apa, entah bagaimana prosesnya.
Thursday, November 22, 2007
keajaiban
Ah, dua minggu belakangan ini kontrakanku mengalami masa suram. biasa, penghuni-penghuninya sedang mengalami krisis finansial. biasanya kami makan apa saja terserah kami, sekarang kami terpaksa memasak sendiri :). aku sendiri tidak begitu parah, hanya saja anggaran untuk sesuap nasi memang telah habis untuk kebutuhan yang lain. lucu sekali melihat anak-anak tidak bisa keluar kemana-mana, hanya diam di kontrakan sambil menunggu keajaiban?
aku yakin Tuhan masih sayang kepada kami, karena dua hari yang lalu datang order penerjemahan yang cukup besar - terbesar yang pernah diterima SAHID & REKAN, sehingga akhir bulan ini bisa dijalani dengan hati tenang.
alhamdulillah :)
aku yakin Tuhan masih sayang kepada kami, karena dua hari yang lalu datang order penerjemahan yang cukup besar - terbesar yang pernah diterima SAHID & REKAN, sehingga akhir bulan ini bisa dijalani dengan hati tenang.
alhamdulillah :)
Thursday, October 04, 2007
i miss that moment
Hmmm... masa muda yang begitu indah. antara kebanggan dan kesombogan... Bisa menghasilkan jutaan rupiah per bulan saat usia belum genap 18 tahun benar-benar memberikan banyak pelajaran berharga buatku: sama saja antara 300 ribu kiriman orang tua dan 1 juta hasil sendiri, sama-sama cepat habis! meski begitu banyak kesenangan masa muda yang aku korbankan, tapi serasa rela. setiap hari menghabiskan waktu berjam-jam hingga larut malam di tahun 2002, menyisihkan banyak hal yang sebenarnya bisa aku raih.
Kemudian berpindah perusahaan di tahun 2004, memberikan lebih banyak hal berarti buatku. tidak hanya materi, disini aku mulai menemukan impian emosionalku, yang tidak aku temukan di perusahaan sebelumnya. bertemu dengan orang-orang yang sangat profesional yang sampai sekarang beberapa diantara mereka masih menjadi idolaku.
Dan ketika aku mengambil studi S1 Manajemen, lambat laun segalanya mulai berubah. seperti berada di persimpangan jalan, aku dihadapkan pada dua pilihan: studi atau karir. aku menyadari, tidak bisa memilih salah satu tanpa mengorbankan yang lain. apalagi disaat indeks prestasiku terus menanjak, tuntutan prioritas benar-benar membuatku ragu. dan akhirnya aku menyerah, memilih studi.
aku benar-benar merasa kalah. malu pada rekan-rekan, pada diriku sendiri, dan mulai kehilangan rasa percaya diri... tidak ada orang yang dapat mengerti jalan pikiranku. dan aku begitu peduli apakah orang lain mengerti.
dan hari-hariku seperti neraka. berkutat dengan buku dan tugas-tugas perkuliahan. demi mencapai indeks prestasi tinggi. aku tidak suka. yang aku suka... seperti dulu. saat aku berjuang meraih mimpi. hari-hari yang penuh emosi, perjuangan, tangis, tawa, dan semangat yang meledak-ledak.
hhhmhh... ketika neraka ini berhasil kulewati, aku akan kembali. aku sangat ingin kembali. saat-saat itu benar-benar terekam dalam memori. benar-benar masa yang sangat kurindukan. i miss that moment...
Wednesday, May 16, 2007
sms
beberapa hari ini aku memikirkan sesuatu. ternyata benar, beberapa baris kata bisa menimbulkan penafsiran yang berbeda bagi beberapa orang. ketidakmampuan menciptakan ekspresi dalam kata, bisa menimbulkan kesalahpahaman. hanya gara-gara sebuah sms, aku kehilangan seorang teman.
beberapa minggu yang lalu aku menjalani rawat inap di rs lavalette, karena komplikasi DBD dan tipus. beberapa teman meluangkan waktunya untuk menjenguk aku, baik waktu di rs maupun di kontrakan (thank u, guys). adalah fifi, salah satu di antara mereka. fifi bawain aku roti dan satu paket sereal. terus terang, aku seneng. banget.
beberapa temen yang tahu kalo aku suka fifi, tanya... "gimana, fifi datang apa nggak??!". ya aku jawab aja terus terang. lalu, ada lagi fifi yang lain, sebut saja fifi kedua. fifi kedua sms aku, apa fifi pertama jenguk aku. akupun membalas smsnya. dan sms yang sedianya akan kukirim ke fifi kedua, ternyata terkirim ke fifi pertama. akibatnya sungguh di luar bayanganku.
fifi pertama kemudian membalas smsku yang salah kirim tadi. dia bilang, dia nyesel udah jenguk aku. dia berpikir kalo aku nggak suka dia jenguk. bahkan dia berpikir kalo aku menuduh dia cari muka di depan orang tuaku, biar dijadiin menantu... padahal, aku nggak pernah berpikir seperti itu. sebagai seorang teman yang baik, aku berusaha menjelaskan semuanya. tapi dia tidak memperdulikan aku lagi.
sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. kita tidak bisa memaksa setiap orang untuk menyukai kita. kita juga tidak bisa memaksa setiap orang agar tidak membenci kita. aku hanya bisa berusaha. dan hanya bisa termenung seperti sekarang, sambil menikmati sereal hangat pemberian fifi. mau dikembalikan kok rasanya nggak sopan. lagian serealnya enak banget. trus rotinya dah abisss.
fifi. fifi. fifi... asal kamu tahu fi,,, tidak ada keraguan di hatiku, bahwa kamu orang yang baik. asal kamu tahu fi, ketika selang infus memasuki pembuluh darah vena, dan ranjang rumah sakit menjadi teman setia, kamulah orang pertama yang aku harapkan ada disana.
beberapa minggu yang lalu aku menjalani rawat inap di rs lavalette, karena komplikasi DBD dan tipus. beberapa teman meluangkan waktunya untuk menjenguk aku, baik waktu di rs maupun di kontrakan (thank u, guys). adalah fifi, salah satu di antara mereka. fifi bawain aku roti dan satu paket sereal. terus terang, aku seneng. banget.
beberapa temen yang tahu kalo aku suka fifi, tanya... "gimana, fifi datang apa nggak??!". ya aku jawab aja terus terang. lalu, ada lagi fifi yang lain, sebut saja fifi kedua. fifi kedua sms aku, apa fifi pertama jenguk aku. akupun membalas smsnya. dan sms yang sedianya akan kukirim ke fifi kedua, ternyata terkirim ke fifi pertama. akibatnya sungguh di luar bayanganku.
fifi pertama kemudian membalas smsku yang salah kirim tadi. dia bilang, dia nyesel udah jenguk aku. dia berpikir kalo aku nggak suka dia jenguk. bahkan dia berpikir kalo aku menuduh dia cari muka di depan orang tuaku, biar dijadiin menantu... padahal, aku nggak pernah berpikir seperti itu. sebagai seorang teman yang baik, aku berusaha menjelaskan semuanya. tapi dia tidak memperdulikan aku lagi.
sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. kita tidak bisa memaksa setiap orang untuk menyukai kita. kita juga tidak bisa memaksa setiap orang agar tidak membenci kita. aku hanya bisa berusaha. dan hanya bisa termenung seperti sekarang, sambil menikmati sereal hangat pemberian fifi. mau dikembalikan kok rasanya nggak sopan. lagian serealnya enak banget. trus rotinya dah abisss.
fifi. fifi. fifi... asal kamu tahu fi,,, tidak ada keraguan di hatiku, bahwa kamu orang yang baik. asal kamu tahu fi, ketika selang infus memasuki pembuluh darah vena, dan ranjang rumah sakit menjadi teman setia, kamulah orang pertama yang aku harapkan ada disana.
Wednesday, December 20, 2006
uneg-uneg seputar "Passion"
Prof. Dr. Conny Semiawan mengatakan bahwa seorang seniman akan menghasilkan kreativitas jika mengalami "passion", yakni suasana jiwa yang luar biasa. pengalaman ini lebih dari sekedar “mood” karena disertai dengan emosi yang mendalam sehingga diikuti oleh semangat luar biasa. Bagi penyair, segala suasana jiwa dan emosi yang mendalam itu ditumpahkan dalam puisi. Dengan “passion”, puisi mampu mempengaruhi siapapun yang membacanya.
Lalu aku berpikir, apakah aku sedang mengalami “passion”? Selama ini jarang sekali puisi-puisiku dimuat di http://fordisastra.com. Beberapa kali aku mengirimkan puisi, hanya satu-dua saja yang dimuat di situs itu. Namun belakangan ini, banyak puisi yang aku kirimkan yang ditampilkan. Apakah mungkin karena aku sedang mengalami ”passion” sehingga puisi-puisi yang aku tulis mampu mempengaruhi redaksi fordisastra.com dan dinilai lebih berbobot? Entahlah...
Tidak pernah serajin ini aku menulis puisi. Dalam tiga bulan ini, aku menulis banyak sekali puisi. dan semuanya romantik, tentang gadis yang aku cintai. Hampir semuanya aku tulis malam hari, saat aku tak bisa tidur karena suasana hati yang tak menentu, seperti bahagia, sedih, takut, semuanya menjadi satu. Seperti ada emosi yang ingin aku tumpahkan. Dan akhirnya, kertas dan penalah yang menjadi pelampiasanku. Apakah ini yang dinamakan dengan ”passion”?
Dan lucunya, tiap kali aku membaca puisi-puisi yang aku tulis itu, aku jadi terpengaruh sendiri. Akupun terbawa pada suasana jiwa yang sama. Semakin dalam malah, sehingga akupun menulis puisi lagi. Seperti mikrofon yang didekatkan ke speaker, suara udara yang masuk ke mic akan dikeluarkan dengan volume yang lebih besar melalui speaker, suaranya masuk ke mic lagi dan akan dikeluarkan dengan volume makin besar, masuk ke mic lagi dan suaranya makin besar, demikian seterusnya hingga terdengar suara yang melengking tinggi dan keras sekali. Itulah sebabnya mengapa aku tak mau sering-sering membaca tulisanku sendiri.
Seandainya aku bisa memilih, aku akan memilih tidak mengalami ”passion” itu. Bikin tak bisa tidur saja...
Lalu aku berpikir, apakah aku sedang mengalami “passion”? Selama ini jarang sekali puisi-puisiku dimuat di http://fordisastra.com. Beberapa kali aku mengirimkan puisi, hanya satu-dua saja yang dimuat di situs itu. Namun belakangan ini, banyak puisi yang aku kirimkan yang ditampilkan. Apakah mungkin karena aku sedang mengalami ”passion” sehingga puisi-puisi yang aku tulis mampu mempengaruhi redaksi fordisastra.com dan dinilai lebih berbobot? Entahlah...
Tidak pernah serajin ini aku menulis puisi. Dalam tiga bulan ini, aku menulis banyak sekali puisi. dan semuanya romantik, tentang gadis yang aku cintai. Hampir semuanya aku tulis malam hari, saat aku tak bisa tidur karena suasana hati yang tak menentu, seperti bahagia, sedih, takut, semuanya menjadi satu. Seperti ada emosi yang ingin aku tumpahkan. Dan akhirnya, kertas dan penalah yang menjadi pelampiasanku. Apakah ini yang dinamakan dengan ”passion”?
Dan lucunya, tiap kali aku membaca puisi-puisi yang aku tulis itu, aku jadi terpengaruh sendiri. Akupun terbawa pada suasana jiwa yang sama. Semakin dalam malah, sehingga akupun menulis puisi lagi. Seperti mikrofon yang didekatkan ke speaker, suara udara yang masuk ke mic akan dikeluarkan dengan volume yang lebih besar melalui speaker, suaranya masuk ke mic lagi dan akan dikeluarkan dengan volume makin besar, masuk ke mic lagi dan suaranya makin besar, demikian seterusnya hingga terdengar suara yang melengking tinggi dan keras sekali. Itulah sebabnya mengapa aku tak mau sering-sering membaca tulisanku sendiri.
Seandainya aku bisa memilih, aku akan memilih tidak mengalami ”passion” itu. Bikin tak bisa tidur saja...
Subscribe to:
Posts (Atom)