Wednesday, December 24, 2008

Friday, November 28, 2008

Dimarahin sama Manajer CSR PT Semen Gresik tbk.

Tadi pagi ketika sedang belajar tentang CRM (customer relationship management), aku iseng-iseng mengirimkan sms kepada manajer CSR dari PT Semen Gresik tbk. Aku mendapatkan nomor ponselnya saat beliau menjadi pembicara seminar di kampusku beberapa hari yang lalu.

Kira-kira beginilah bunyi smsku: "Selamat pagi, Bapak Manajer. Saya Sahid, peserta seminar di Unibraw tempo hari dimana Bapak menjadi salah satu pembicara. Saya menyambut baik dan tertarik dengan program CRM perusahaan Bapak, bla bla bla..." Intinya aku ingin mengetahui prosedur pengajuan bantuan modal bagi pengusaha, yang menjadi salah satu kegiatan CSR PT Semen Gresik tbk.

Lama aku menunggu balasan dari beliau. Aku berpikir positif saja, mungkin beliau sibuk sekali dengan kegiatannya sebagai Manajer CSR perusahaan semen terbesar di Indonesia. Hingga kemudian ketika aku makan malam, datanglah balasan sms dari beliau. Dan apa isinya?

"Bukan CRM tapi CSR atau corporate social responsibility. Apa belum terima kuliah tentang CSR?! Bla bla bla..."

Ah, rupanya saat aku sedang belajar tentang CRM tadi pagi, aku sedikit ngelantur dan salah menuliskan CSR dengan CRM! Duh, memalukan nama Universitas Brawijaya saja, hehe...

Makan malam bareng cewek imut ternyata rasanya berbeda!

Apa bedanya makan bareng cewek imut dengan cewek biasa? Percayalah kawan, ternyata sungguh berbeda! Mungkin kamu sering pergi makan ramai-ramai atau berdua dengan temanmu, tapi coba perhatikan bedanya pergi makan bareng cewek imut. There is something special, bukan?

Beberapa malam yang lalu aku pergi makan malam dengan gadis seperti itu. Gadis yang manis, imut, lucu, dan modis. Jika kamu sedang jomblo, cobalah sekali-kali pergi berdua dengan gadis seperti itu, kawan. It's lift ur heart, dan bikin iri cowok-cowok yang melihat kalian berdua, seperti yang terjadi padaku tempo hari. Kami duduk di tengah-tengah, dan semua mata disana, paling tidak, melirik kami sesekali. Seperti halnya ketika kamu melihat cewek cantik jalan bareng cowok di suatu tempat, kadang sirik bukan? hehe..

Ok lanjut. Lalu saat kalian duduk berhadapan, kamu akan terpesona dengan cewek imut di depanmu itu, kawan. wajahnya yang manis, imut, serta tingkahnya yang lucu, dan senyumnya yang, jika kamu masih normal, akan terbawa sampai tidur! Jari lentik dan kuku indahnya menunjukkan bahwa cewek imut jauh dari urusan cuci mencuci, haha..

Dan ketika kamu mulai makan, semuanya terasa lezat. Tak peduli apapun yang kau makan, bahkan jika kau sedang maag sekalipun! Lalu perhatikan saat ia makan. Tonjolan di pipinya saat mengunyah bakso, terlihat seperti bola matahari pagi yang cahayanya lembut saat sunrise menjelang. Lalu bibirnya yang basah, akan tampak seperti gelas kristal mahal yang berkilauan, membuatmu harus memperlakukan ia dengan sangat lembut dan hati-hati. Aih...

Puasa yang nggak berkah!

Puasa, puasa..... Tapi kok banyak banget godaannya? Tadi pagi udah laper. Sampe siang sibuk kerja kelompok di kampus. Pusing... Kepala pening akibat tugas yang minta ampun susahnya! Mata ini dipaksa menikmati wajah-wajah cantik mahasiswi ekonomi. Aduh, Basement gedung E memang penuh godaan, huff.... Dan yang paling parah, dipampangin belahan dada dari jarak setengah meter! Astaghfirullah.. Aku langsung menutup mata memarahi temanku itu. Dan dia hanya tertawa cengengesan.

Aaaahhh, rusak, rusak.... Puasa hari ini rusak!

Cinta itu tak masuk akal!

Satu lagi bukti bahwa cinta itu tak masuk akal. Ada seorang kawan mahasiswa. Hobinya adalah bolos kuliah. Sering sekali dia bolos, entah itu titip absen, membuat surat, bahkan benar-benar bolos tanpa alasan yang jelas. Tapi lucunya, dia tak pernah absen mengantarkan pacarnya pergi kuliah. Bahkan menungguinya sampai kuliah selesai! Di kampus dan gedung yang sama pula! Aduh...

Tuesday, November 25, 2008

Terpesona

Seorang mahasiswa memasuki kelas. Sebagian pakaiannya basah akibat kehujanan. Di luar memang hujan deras, namun ia memaksakan diri menerobos hujan deras demi sampai di kampus. Meski sudah terlambat selama setengah jam, lelaki itu tetap saja memasuki kelas. Tak dipedulikannya dosen yang sedang sibuk memandu diskusi kelas. Ia langsung saja mencari kursi yang kosong dan duduk dengan santainya.

Lelaki itu tampak kuyu dan berantakan. Terlihat benar bahwa ia tidak bersemangat untuk pergi kuliah hari ini. Ia tidak membawa tas dan buku-buku. Kehadirannya hanya untuk mengangkat tangan saat kuliah ini berakhir nanti, agar lembar presensinya terisi. Sebuah lembar formalitas yang memaksa mahasiswa untuk hadir di kelas, agar kelak mereka berhasil mendapatkan satu lagi lembar formalitas yang bernama ijazah.

Diskusi berjalan dengan menarik di kelas itu. Penyaji dan peserta tampak bersemangat. Mereka kaum intelek yang sedang membicarakan retail distribution, service quality, store brand, dan sebagainya, yang akan membuat tukang becak dan penjual nasi goreng terbengong-bengong jika mendengarnya. Tapi diskusi itu tidak menarik perhatian lelaki yang terlambat tadi. Wajahnya muram, seperti cahaya lampu temaram di tengah hutan. Ia berada di dunianya sendiri, seolah ia adalah point of interest dalam slow motion, sementara dunia di sekelilingnya bergerak dengan cepat tanpa dihiraukannya. Pikirannya berlari keluar kelas lalu terbang menemui seorang gadis yang baru saja dikenalnya. Ya, ia sedang jatuh cinta. Perasaan itu baru saja didapatnya ketika ia mengajak makan malam seorang gadis dan menyadari bahwa gadis itu begitu istimewa.

Cinta memang tidak masuk akal. Lelaki yang sedang muram itu, malam-malamnya dipenuhi oleh kegelisahan tak berdasar. Matanya sulit terpejam saat ia hendak tidur. Ia akan tercenung memandangi ponselnya, berharap ada pesan yang masuk. Ketika pesan itu masuk, ia kegirangan dan tak sabar membukanya. Lalu ia menggerutu karena pesan itu bukan datang dari gadis yang diharapkannya. Sementara di malam yang lain, tangannya sibuk memainkan pena, menuliskan coretan kerinduan di atas sebidang kertas.

Diskusi di kelas itu masih berjalan dengan menarik. Akan tetapi lelaki itu masih saja sibuk dengan pikirannya sendiri. Hanya saja, ia sesekali melirik pena dan kertas yang tergeletak diam di kursi sebelahnya. Nampaknya tangannya gatal ingin menuliskan sesuatu. Maka diambilnya pena dan kertas itu tanpa permisi. Tidak dipedulikannya sang pemilik yang kaget terbengong-bengong melihat barang-barangnya diambil. Lelaki itu hanya diam membisu, mengingat-ingat kembali sebuah puisi yang dibuatnya semalam tadi, saat kegelisahan menderanya tak henti-henti. Lalu dituliskannya kembali puisi itu…

Katakan, bagaimana aku tidak terpesona?
Waktu seolah berhenti saat senyummu mengembang
Jantungku berdegup kencang saat kita bertemu pandang
Dan sipit mata saat engkau tertawa, sungguh tak bisa kulupa

Katakan, bagaimana aku tidak terpesona?
Bayangan dirimu menggoda tidurku dan tak bisa hilang…

Tuesday, October 28, 2008

Rintik Hujan Sore Itu

Aku sedang duduk menunggu fotokopi ketika gadis itu datang kemari. Tempat foto kopi ini memang ramai dikunjungi mahasiswa fakultas kami, namun hari ini tampak lengang. Mungkin karena hari sudah menjelang sore dan langit tampak gelap, sehingga banyak mahasiswa yang memilih untuk pulang.

"Hai, Sahid! Lg nunggu fotokopi yah?" gadis ini menyapaku dengan senyum manisnya. Gadis ini selalu tampak ceria. Entah terbuat dari apa hatinya, gadis ini selalu pandai menyenangkan orang lain. Senyuman tak pernah lepas dari wajahnya, dan bibirnya tak pernah berhenti meluncurkan celotehan jenaka seperti anak kecil, lucu sekali. Paling tidak ia bisa memaksaku tersenyum saat hatiku sedang gundah. Ya, akhir-akhir ini hidupku terasa susah. Anganku serasa terbang ke atas awan, namun hatiku seolah terpenjara di dasar lautan. Aku menjalani malam-malam penuh gelisah. Inilah tipikal lelaki muda yang sedang jatuh cinta.

Sudah satu bulan ini aku tak tahan untuk menumpahkan perasaanku, walaupun hanya kepada pena dan kertas. Melalui puisi-puisi kuungkapkan isi hati. Entah mengapa aku memilih puisi. Kata-kata itu meluncur begitu saja, seperti aku yang tiba-tiba jatuh cinta. Tapi seorang penyair pernah berkata, puisi bisa jadi adalah ungkapan hati yang tak ingin diketahui oleh orang lain. Dengan puisi yang sarat makna dan ambigu, orang lain tak akan tahu siapa gadis yang telah mencuri hatiku, hingga hari-hariku terasa penuh sekaligus hampa. Penuh karena setiap hari terbayang-bayang wajahnya, namun hampa karena jiwaku telah diambilnya.

Bidadari. Hanya itulah petunjuk yang secara eksplisit tertera dalam puisiku tentangnya. Teman-temanku penasaran dengan sosok bidadari yang muncul dalam setiap tulisanku. Dalam puisi, dalam coret-coretan di buku, bahkan dalam edaran kelas. Waktu itu aku membagikan sebuah edaran mengenai informasi sebuah mata kuliah. Aku senang sekali karena akhirnya tugasku sebagai ketua kelas mata kuliah itu telah kuselesaikan dengan baik, meskipun sungguh berat dan menyita waktu. Maka aku merasa perlu untuk menuliskan daftar orang-orang yang harus mendapatkan ucapan terimakasih dariku, mulai dari penjual lalapan ayam di dekat kosku, penjaga rental komputer, teman-teman yang menemaniku begadang, dan tentu saja bidadari. dalam edaran itu aku tuliskan: Bidadari, engkau adalah hal kedua setelah mata kuliah ini yang membuatku tak bisa tidur!

Ketika edaran itu sampai di tangannya, aku memperhatikannya dengan serius. Aku tak ingin kehilangan setiap detik, bahkan kedipan mataku sekalipun. Agak lama ia membaca edaran itu. Tampaknya ia membaca semua tulisanku. Tiba-tiba ia bereaksi. Aku tahu, ia menahan tawa. Namun ia tak bisa menyembunyikan senyumnya yang jenaka. manis sekali. Lalu ia menuliskan sesuatu di atas edaran itu. Dan ketika edaran itu kembali kepadaku, di atas kata "bidadari" ia menuliskan kata-kata ini: "Aku ya?". Membaca tulisan itu, aku kaget bukan main. Sejak saat itu, aku merasa rikuh jika berada dekat dengannya. Namun demikian, sikapnya terhadapku tak pernah berubah, bahkan belakangan ini perhatiannya padaku semakin bertambah.

*

Awan semakin gelap. Suasana semakin senyap. Kampus ini sudah sepi, namun gadis di sebelahku ini masih ramai sekali. Ia membicarakan semua yang ada di dalam benaknya. Aku mendengarkan dengan sungguh-sungguh sambil sesekali menjawab pertanyaannya. Apa lagi yang lebih menarik perhatian lelaki yang sedang jatuh cinta ini selain gadis yang sedang duduk di sebelahnya?

Tiba-tiba, ia menyinggung tentang bidadari. Ia menanyakan siapakah bidadari yang selama ini menghiasi setiap puisi. Aku berusaha mengalihkan pembicaraan, namun ia sungguh antusias ingin membuatku membongkar sebuah rahasia. Aku pun terdiam. Aku tak tahu harus bicara apa. Aku hanya memandangnya, dan dia hanya memandangku. Waktu seolah berjalan lambat sekali, sementara aku tak bisa berpikir lagi. Aku tak bisa merasakan apa-apa selain suara jantungku yang berdetak kian kencang.

Saat itulah, tiba-tiba turun rintik hujan. Pandangan kami berdua beralih ke depan. Aku melihat butir-butir air membasahi rerumputan hijau, dan jatuh pula di atas bunga-bunga yang menghiasi taman di depanku. Pemandangan yang sangat indah. Aku bangkit berdiri dan melangkah perlahan ke depan, lalu duduk di teras. Dengan demikian aku bisa merasakan butir-butir air menerpa telapak tangan yang kujulurkan ke depan. Dia mengikutiku, duduk di sebelahku. Wajahnya sungguh menunjukkan rasa ingin tahu yang teramat sangat.

"Siapa..." dia bertanya sekali lagi, mengharapkan sebuah nama keluar dari bibirku. Ia sungguh penasaran, seolah tak yakin bahwa selama ini dialah bidadari itu.

Aku memang pernah jatuh cinta, tapi sebelumnya aku tak pernah mengungkapkan cinta pada seorang gadis. Tapi hari ini, di tengah rintik hujan yang baru saja turun dan perlahan membasahi taman bunga di depanku, gadis manis ini duduk di sebelahku. Gadis yang aku suka sejak lama. Aku merenung sejenak, berusaha menjawab sebuah pertanyaan: inikah waktunya?

Sunday, October 19, 2008

Trier Autra Spear Hyex!

"Ujian di ruang Lab 2!" begitulah isi sms dari Dafin, sang ketua kelas mata kuliah Metodologi Penelitian. Sms itu membuatku lari ke gedung Laboratorium komputer, tempat ujian berlangsung. Hampir tersandung aku gara-gara terburu-buru menaiki tangga. Tapi ternyata sesampainya di atas, teman-teman sekelasku malah asyik berleha-leha. Ah, dosenku belum datang rupanya...

Bagiku, mata kuliah ini sungguh menyebalkan. Beberapa semester lalu aku sudah menempuh mata kuliah ini, namun hasilnya kurang memuaskan. Akhirnya aku memutuskan untuk mengulang. Tapi entah mengapa, aku kurang begitu semangat mengikuti kelas ini. Bisa jadi karena aku kesepian. Tidak ada teman satu angkatan, karena peserta kelas ini dipenuhi oleh adik tingkatku. Atau mungkin juga karena aku sebal dengan dosenku. Meskipun sudah bergelar profesor, beliau suka sekali menggoda mahasiswanya. Pernah suatu kali seorang mahasiswi diminta untuk berdiri, dan aku ditunjuk untuk mendeskripsikan segala sesuatu tentangnya. Maka aku sebutkan saja pendapatku tentangnya, mulai dari bajunya, celananya, sepatunya, dan sebagainya. Mahasiswi itu begitu rikuh saat semua mata memandangnya, apalagi aku diminta untuk memberikan penjelasan detil, karena kami sedang membahas mengenai observasi. Sungguh kasihan sekali. Apalagi ketika aku berkomentar tentang muka jawanya, meledaklah tawa di ruangan itu, tak terkecuali sang profesor. Aku sungguh tak enak hati.

Mengetahui bahwa dosenku belum datang tak lantas membuatku bersantai-santai. Aku belum belajar sama sekali! Katakan kawan, bagaimana aku bisa bermimpi mendapatkan nilai A jika kuliahku tak serius seperti ini. Lalu aku membaca modul-modul kuliah. Sebagian kuambil dari dalam tasku, sebagian lagi kupinjam dari adik tingkatku. Kemudian aku membaca modul-modul itu dengan sangat cepat. Bisa jadi tulisan-tulisan itu masuk mata kiri keluar mata kanan. Entahlah, waktu berjalan begitu cepat. Aku benar-benar pasrah. Tidak mungkin menghafalkan semua materi dalam modul-modul ini.

Di saat-saat genting itu, perutku tiba-tiba sakit. Ah, habis makan apa aku semalam?! Aku benar-benar pusing dibuatnya. Aku ingin ke belakang, tapi sebentar lagi dosenku pasti datang. Aku seperti berada di persimpangan jalan: mencari wc atau menghabiskan sisa waktu untuk belajar ujian. Percayalah kawan, perasaan ini jauh lebih dahsyat daripada bingung memilih memakai uang untuk makan atau beli pulsa. Terlintas di benakku untuk menggunakan teknik jembatan keladi. Pikiranku mungkin sedang konyol. Ini kan mainan anak SD? Tapi nampaknya aku tak punya pilihan lain. Maka, sambil membaca cepat, kuciptakanlah beberapa rangkaian jembatan keladi, demi membantuku menghafalkan materi-materi dalam modul itu. Ah, mimpi di siang bolong kalau jembatan keladi konyol ini berguna di ujian nanti!

Ujian pun dimulai. Aku sudah lemas ketika lembar soal dibagikan. Perutku sungguh melilit. Apalagi sang profesor berpesan, yang sudah selesai boleh langsung pulang. Aduh, pasti aku yang bakal keluar terakhir!

Tapi kawan, sulit dipercaya. Mataku berbinar-binar ketika membaca soal-soal itu. Secara spontan, terlintas jawaban-jawaban di pikiranku. Seperti berjingkrak-jingkrak dalam otakku, antri berdesak-desakan menunggu giliran untuk dituliskan dalam lembar jawaban. Maka dalam waktu singkat, aku sudah menjawab hampir seluruh soal. Tapi rupanya ada satu soal yang tak dapat kutemukan jawabannya. Sudah kutugaskan mesin pencari dalam otakku untuk mencari jawaban itu, namun tak kunjung ketemu.

Sambil menunggu ilham, aku memperhatikan sekelilingku. Karena aku duduk paling belakang, aku dapat dengan mudah mengamati mahasiswa-mahasiswa di depanku. Tampaknya sebagian dari mereka mulai frustasi, lalu mengerahkan ilmu yang sudah dilatihnya selama bertahun-tahun, sejak kelas satu SD. Ada yang menoleh ke kiri dan ke kanan, ada yang mencolek orang di depannya, dan... Ah, ada yang malu-malu membuka modul yang disembunyikannya di bawah kursi. Wah, sepertinya sang ketua kelas harus menyadarkan kelas ini agar segera tobat. Lalu aku memperhatikan dafin yang juga duduk di deretan paling belakang. Mataku terbelalak. Sang ketua kelas justru sedang asik menyalin modul kuliah ke lembar jawaban dengan santainya.

Mungkin karena kaget oleh pertunjukan sang ketua kelas, pikiranku seperti dicampur aduk. Memori di dalam otakku seperti dikocok-kocok, sehingga keluarlah memori-memori yang tersembunyi di sela-sela ingatanku. Tak disangka-sangka, kutemukan jawaban soal yang belum kujawab. Aku seperti archimedes yang berlari-lari sambil meneriakkan "eureka!". Aku kegirangan sambil menggumamkan rangkaian kata yang tak kalah legendaris, "trier autra spear hyex!"

Jangan bingung kawan, itu bukanlah bahasa yunani kuno ataupun bahasa dari planet lain. Itu adalah salah satu dari jembatan keladi konyol yang kuceritakan tadi. "Trier autra spear hyex" adalah singkatan dari trial-error, authority-tradition, speculation-argumentation, dan hypothesis-experimentation. Dan itu adalah sejarah perkembangan metodologi penelitian! Akhirnya, terjawab sudah semua soal ujian ini!

Karena aku sudah tidak tahan dengan keadaan perutku, aku langsung bangkit berdiri dengan gagahnya bak peragawan yang memamerkan wajahnya nan rupawan. Semua mata pun tertuju padaku. Percayalah kawan, sensasinya terasa menyenangkan. Jika tidak percaya, cobalah sekali-kali menjadi yang pertama menyelesaikan soal ujian. Tapi jangan coba-coba melakukannya jika lembar jawabanmu masih kosong, apalagi jika itu terjadi pada saat ujian akhir semester. Ketika melihat lembar jawabanmu, seorang profesor pun bisa mengumpat dalam hati, "orang ini pasti sudah gila!"

Aku berjalan menuju meja dosen dan menyerahkan lembar jawabanku. Bisa kudengar suara-suara mahasiswa yang spontan mengomentariku karena akulah yang pertama menyelesaikan ujian ini. Bisa jadi mereka kagum, atau mungkin sirik padaku? Ah, aku tak mau memikirkannya, apalagi berburuk sangka. Aku lebih peduli pada perutku yang makin melilit. Maka dengan gaya yang kuatur setenang mungkin, aku pamit pada sang profesor, berjalan menuju pintu dan menutupnya dengan perlahan. Padahal sejujurnya aku sudah tak tahan lagi.

selanjutnya bisa kau tebak kawan, aku lari tunggang langgang mencari wc.

Monday, September 15, 2008

Aku Suka Kamu!

Telah terbuka pelupuk mata
Lewati malam syahdu bertabur mimpi indah tentangmu

Telah terbuka pelupuk mata
Tak sabar menanti perjumpaan denganmu

Tidakkah kau sadari
Hatiku berbunga-bunga penuh malu saat pandangan bertemu
Timbul tenggelam dalam debur ombak lautan rindu
Bergeliat...
Lalu semburat dan pecah tak tentu arah
Laksana word of mouth menyebar berita:
Aku suka kamu!

Tidakkah kau mengerti
Jari-jari tanganku terikat erat pada pena
Setiap hari menuliskan namamu...
Xxxxx (censored).

Malang, 13 September 2008

Tuesday, August 26, 2008

Kamarku Mati Lampu: Mahasiswa, Uang dan Politik Kampung (Bagian 7)

Benda itu berbentuk kerucut. Ujungnya tumpul setengah lingkaran, sementara sisanya berupa bulu-bulu berwarna putih yang ditancapkan pada benda tumpul setengah lingkaran tadi. Benda itu bisa melayang dan melesat dengan ringan. Kita tidak akan terluka jika dilempari benda itu. Tapi lain cerita jika kita terkena dengan kecepatan 200 km/jam, maka mau tidak mau kita akan meringis kesakitan. Itulah shuttlecock. Orang Indonesia biasa menyebutnya dengan kock saja. Benda itulah yang digunakan dalam permainan bulutangkis, seperti yang biasa kami lakukan setiap hari selasa.

Kami memiliki sebuah klub bulutangkis. Namanya adalah PB MALING. Kami menamainya demikian karena kami jarang ataupun sering telat membayar sewa gedung bulutangkis. Sebisa mungkin kami akan menghindari bapak penjaga gedung yang tinggal tidak jauh dari gedung bulutangkis itu. Karena gedung itu tidak pernah dikunci, maka kami bebas keluar masuk untuk bermain bulutangkis di dalamnya. Nah, jika tiba waktunya kami membayar, maka seusai bermain bulutangkis kami akan buru-buru kabur seperti maling!

Gara-gara tingkah kurang ajar kami, gedung itu kemudian digembok setiap saat. Gembok hanya dibuka jika ada penyewa yang akan bermain, tentunya setelah bapak penjaga memastikan bahwa mereka telah membayar uang sewa. Sejak saat itulah kami insyaf, lalu membayar uang sewa secara teratur dan tepat waktu. Seiring dengan berubahnya sikap kami, mungkin ada baiknya kami juga mengubah nama klub kami. PB TOBAT kelihatannya nama yang cocok.

Sebagai tipikal orang yang bermulut besar dan semaunya sendiri, aku mengangkat diriku sendiri sebagai Sahidkage Malinggakure. Kira-kira artinya adalah ”pak Sahid sang ketua kampung maling.” Tugasku adalah mengajarkan teknik bermain bulutangkis tingkat tinggi kepada setiap anggota PB MALING. Beberapa jurus yang kuajarkan diantaranya backhand smash pake tangan kiri sambil salto. Jurus lainnya adalah Super crossing smash down to your own fild. Artinya kira-kira “smash menyilang yang amat dahsyat, tapi bukannya masuk ke daerah lawan namun justru jatuh ke daerahmu sendiri!”

Tentu saja semua itu hanya bualan. Namun yang pasti, setiap orang yang ingin bergabung dengan PB MALING harus berhadapan denganku. Jika berhasil mengalahkanku dalam permainan bulutangkis, barulah orang itu boleh bergabung. Mengapa demikian? Tentu saja karena aku adalah anggota yang kemampuan bermain bulutangkisnya paling rendah. Teman-teman akan muak jika di PB MALING ada satu lagi orang dengan kemampuan bermain bulutangkis seperti diriku. Itulah sebabnya mereka sangat concern terhadap perkembangan kemampuanku bermain bulutangkis. ”Orang ini menjelekkan nama baik PB MALING saja!” begitu barangkali pemikiran mereka. Tapi kurasa tanpa keberadaanku pun, PB MALING tetap nama yang jelek.

Bermain bulutangkis sangat menguras tenaga. Tidak jarang badan kami jadi meriang dan pegal-pegal setelah seharian bermain. Jika itu yang terjadi, teman-teman biasanya akan istirahat dan bolos kuliah. Tapi tidak denganku, karena aku sangat peduli dengan pendidikan. Aku titip absen...

Friday, August 15, 2008

Aku suntuk

aku suntuk
pena enggan kupeluk
dan kertas gusar karna ternoda
"Tak sudi jadi alas puisi!"

tapi aku mau bikin puisi

peristiwa dan drama hanya singgah di pelupuk
tak beri arti, lebih lebih inspirasi

tapi aku mau inspirasi

Nanang Suryadi nyeletuk:
"Cari saja istri!"

Malang, 15 Agustus 2008

Wednesday, August 13, 2008

Puisi yang takkan pernah kau baca

 ...buat manis

siaran tv berguguran
menyisakan semut-semut berkejaran

bintang-bintang berlarian ke barat
membawa kabur segudang tanya

timbul tenggelam di pelupuk:
seraut wajah manis menggoda

cinta, tolong pejamkan mata

Malang, 13 Agustus 2008.

Saturday, August 02, 2008

Hari senin yang aneh!

Sungguh menyenangkan menghabiskan akhir pekan bersama teman-teman di puncak bukit Panderman, menghabiskan malam dengan memandang bintang-bintang di angkasa dan kelap-kelip lampu kota di bawahnya. Seperti melihat hamparan permukaan danau nan jernih dan luas yang memantulkan pemandangan alam di seberang sana. Dan keesokan harinya kami menikmati matahari terbit, yang sungguh elok jika dilihat dari bukit 2000 meter ini.

Menuruni bukit Panderman adalah kegiatan yang menyenangkan bagi kami. Berlari-lari menuruni bukit terjal penuh pasir, kami melompati bebatuan, menerjang semak belukar, dan meluncur di atas lautan pasir hingga kaki bukit. Maka sampailah aku di kos dengan baju belepotan dan celana penuh pasir. Dengan sedikit tenaga yang tersisa, aku mencuci pakaianku yang teramat sangat kotor. Mungkin tidak akan ada laundry yang mau menerima pakaianku.

Pukul empat sore, aku selesai mencuci, selesai mandi, dan fisikku benar-benar terkuras. Aku lelah sekali! Hari minggu yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Aku segera tidur setelah itu...

Tiba-tiba aku terbangun. Mataku berat, tenggorokanku kering dan tercekat, sementara seluruh tubuhku terasa pegal-pegal. Kesadaranku juga belum penuh. Namun ketika mataku tertuju pada jam dinding di kamarku, aku terkejut setengah mati. Sudah jam enam! Padahal pukul setengah tujuh pagi aku ada kuliah. Sementara aku adalah mahasiswa yang rajin. Waktu itu tidak ada pikiran untuk membolos apalagi titip absen. Akupun lari tunggang langgang menuju kamar mandi. Bukan untuk mandi, tapi sekedar cuci muka. Jika aku mandi, bisa-bisa aku terlambat dan tidak diijinkan masuk kelas. Jika aku sedang gelap mata, jangan ceramahi aku tentang teori mengenai kebersihan dan bau badan. Teman-teman kosku hanya bisa terbengong-bengong melihat aku yang panik dan terburu-buru.

Tapi di tengah kepanikanku, aku masih sempat memperhatikan keanehan hari ini. Aku mendapati bahwa semakin mendekati pukul setengah tujuh, bukannya semakin terang, hari justru semakin gelap. Aku ketakutan, ada apa dengan hari ini? Aku sibuk bertanya-tanya dalam hati. Namun di sekelilingku, teman-teman kosku malah asyik bercanda-tawa di depan televisi. Aku yakin mereka tahu bahwa ini adalah hari senin yang aneh. Aku yakin mereka sadar bahwa senin pagi ini hari bukannya semakin terang namun justru semakin gelap. Tapi mereka cuek sekali dengan keganjilan ini. Ada apa dengan hari ini? Ada apa dengan teman-temanku?!

Hid, rapi amat? Mau kemana malam-malam gini?” celetuk Rendy.

Lho, senin gini kamu gak kuliah pagi, Ren?!” Aku sungguh bingung, biasanya hari senin teman-temanku sibuk sekali.

Oi, bangun Hid! Bangun! Ini masih hari minggu, oi! Ini jam setengah tujuh malem, bukan jam setengah tujuh pagi!” Rendy cengar-cengir melihat ketololanku.

Saturday, June 07, 2008

Kamarku Mati Lampu: Transaksi Cinta (Bagian 1)

Jilbab hitam berkibar-kibar membelah angin senja di atas roda dua, menghiasi seraut wajah yang indah. Melewati perkampungan, hiruk-pikuk pasar, dan jalan raya padat merayap, aku justru merasa bahwa kami sedang mengendarai Harley Davidson di atas jalanan sepi sambil menikmati sabana luas sejauh mata memandang. Pesona wanita ini cukup luar biasa, paling tidak ia bisa membuatku lupa bahwa kami sedang berada di atas motor Suzuki Smash 2004 yang jarang dicuci.

Seringkali aku berpikir bahwa wanita susah dimengerti. Meraba-raba apa yang ada di benaknya sama saja seperti seorang penderita rabun akut yang mencoba berjalan tanpa memakai kacamata. Berbulan-bulan lalu aku tak pernah berhasil mengajak ia pergi berdua denganku. Namun kali ini, hanya dengan iseng-iseng mengirimkan satu satu pesan singkat tanpa basa-basi, dia langsung menjawab, ”Mau dong ikut...”

Berhasil mengajaknya pergi, kebimbangan justru hinggap di pikiranku, sehingga menghasilkan wajah kaku pertanda ragu ketika berbincang dengannya. Aku tak mau ambil pusing dengan pendapatnya tentang mimik mukaku yang aneh, karena aku sibuk mengingatkan diriku sendiri agar berhati-hati. Jika lengah sedikit, salah-salah aku bisa jatuh cinta lagi padanya. Ya, aku sempat dibuat mabuk kepayang oleh wanita ini. Beragam rumus dan jurus cinta aku implementasikan agar mendapat acc untuk mencapai posisi strategis: menjadi pacarnya!

Pertama. Aku menyatakan cinta dalam bentuk puisi. Puisi itu kubuat semalam suntuk, khusus untuk menyatakan cintaku padanya. Namun semua kacau berantakan karena tubuhku gemetar melihat wajahnya yang manis tak terperi di bawah cahaya remang-remang. Jika Anda bosan dengan pacar Anda, cobalah mengajaknya makan malam romantis, dan biarkan sebatang lilin bekerja untuk Anda. Pendaran cahaya lilin akan membuat pacar Anda lebih cantik dari biasanya. Jika Anda sudah memakai lilin dan pacar Anda tetap saja jelek, cobalah pinjam kacamata minus milik teman Anda, sambil berharap bahwa efek blur dapat sedikit mengurangi kejelekannya.

Kedua. Belajar dari pengalaman sebelumnya, sebuah puisi tak sanggup menyentuh hati seorang wanita. Maka aku memberinya tidak hanya satu atau dua puisi, namun sekaligus sebuah buku kumpulan puisi tentangnya. Waktu itu aku berpikir bahwa wanita manapun pasti akan luluh jika mendapatkan penghargaan paling tinggi yang sanggup diberikan oleh seorang lelaki romantis: sebuah antologi puisi! Tapi dasar pikun, setelah ngobrol banyak, memberikan buku puisi dahsyat itu, dan mengantarnya pulang, aku justru lupa menembaknya! Padahal, presentasi cinta yang dilakukan tanpa tembakan follow up, takkan menghasilkan transaksi cinta!

Ketiga. Karena frustasi, aku mulai serius dan bersikap profesional seperti banyak sarjana nganggur di Indonesia, membuat surat lamaran dengan lampiran lengkap. Beginilah isi surat lamaran itu:

----------
Dengan hormat,
Berdasarkan informasi pesan singkat (sms) dari nomor ponsel Anda tanggal 7 Oktober 2007, bahwa Anda membuka lowongan, maka dengan ini saya menyatakan ketertarikan dan keinginan saya untuk bergabung menjadi seorang Pacar. Saya berkeyakinan pengetahuan dan kemampuan yang saya miliki sesuai dengan kriteria yang Anda butuhkan.

Nama saya Sahid Kusuma Wijaya (22 Th), jomblo, belum menikah, Mahasiswa Ekonomi Manajemen Universitas Brawijaya dengan konsentrasi Pemasaran. Saya mampu mengoperasikan sepeda motor, berbahasa Jawa, Indonesia dan Inggris baik lisan maupun tulisan, dan memiliki pengetahuan yang luas. Saya juga mampu bekerja keras, sabar, penyayang, pengertian, dan memiliki motivasi serta kemauan untuk belajar menjadi pacar yang baik.

Sebagai bahan pertimbangan, bersama ini saya lampirkan: Daftar riwayat hidup, ijasah terakhir, transkrip nilai terakhir, dan pas foto terbaru serta sertifikat-sertifikat.

Besar harapan saya untuk diberi kesempatan mengikuti tes atau wawancara yang akan dilakukan oleh Anda. Saya akan memberikan kemampuan terbaik yang saya miliki. Atas perhatiannya, saya ucapkan banyak terima kasih.

Hormat saya,
Sahid Kusuma Wijaya
----------

Wanita, oh wanita... Membaca surat lamaran itu ia malah tertawa. Sungguh tidak menghargai keseriusan seorang lelaki sama sekali!