Thursday, March 18, 2010
Draft
Wednesday, May 20, 2009
Teriakan Ekspresif nan Penuh Kebahagiaan
Alkisah terdapat seorang anak laki-laki berusia 5 tahun. Ia begitu kecil, mungil, dan bugil. Ya, anak laki-laki itu sedang bugil! Sore itu ia sedang asik berendam dalam ember besar berisi air hangat, di dekat sumur di halaman belakang sebuah rumah dinas perkebunan. Rumah itu terletak di pojok pemukiman yang berada di tengah-tengah perkebunan karet dan kakao yang rindang. Tak jauh dari rumah itu terdapat sebuah lapangan yang hijau dan sangat luas. Setiap sore lapangan itu selalu ramai dipenuhi oleh penduduk yang berolahraga, entah itu sepak bola atau sekedar jogging saja. Setelah selesai berolahraga, dengan wajah lelah berduyun-duyunlah mereka menuju pemukiman, melalui jalan setapak di belakang rumah dinas perkebunan itu. Seperti sore itu, saat anak laki-laki berusia 5 tahun itu sedang asik mandi di dalam ember besar kesayangannya.
Anak itu rupanya sangat asik dengan kegiatan mandinya. Ia bernyanyi sesuka hati, memukulkan gayung ke dalam air, membuncahkan air ke segala arah, dan berteriak kegirangan. Sebuah pemandangan yang mahfum mengingat bahwa ia belum mengenal televisi berwarna, video game ataupun mobil remote control, sehingga kegiatan mandi di ember besar saja sudah terasa menyenangkan baginya. Dan ketika ia melihat penduduk berduyun-duyun melewati jalan setapak di belakang halaman rumahnya, tiba-tiba matanya berbinar. ia bangkit berdiri, meloncat-loncat dan berteriak menyapa mereka sembari melambaikan tangan. Padahal ia tak mengenal satupun di antara mereka. “Ah, anak kecil yang lucu dan menyenangkan,” begitu barangkali yang dipikirkan oleh orang-orang yang melihatnya sambil tersenyum simpul. Segalanya berjalan dengan baik dan menyenangkan, hingga anak kecil yang imut itu tiba-tiba mengacungkan tangannya dan meneriaki penduduk, “JANC*****K!” dengan ekspresi penuh kebahagiaan…
Maka terpanalah semua penduduk yang melewati jalan setapak itu, dengan ekspresi mata terbelalak, tubuh kaku tak bisa bergerak, dan tenggorokan tercekat. Anak kecil itu benar-benar merusak suasana indah sore itu. Akan tetapi kemudian orang-orang saling berpandangan, cekikikan dan akhirnya tertawa terbahak-bahak.
Namun ada satu orang yang sama sekali tak bisa tertawa sore itu. Ibu dari anak kecil tadi, yang tadinya sedang sibuk memasak untuk makan malam, tergopoh-gopoh menuju halaman belakang setelah mendengar “teriakan ekspresif nan penuh kebahagiaan” yang ia sangat yakin seyakin-yakinnya bahwa teriakan itu keluar dari mulut anaknya. Maka ia mendapati anak kecilnya yang imut sedang asik menari bugil di atas ember kesayangan sambil mengeluarkan “teriakan ekspresif nan penuh kebahagiaan” tadi. Dan anak kecil itu lalu terdiam keheranan mengapa ibunya memandanginya dengan muka masam. Dan interogasi pun dilaksanakan…
Melalui interogasi yang dilakukan secara maraton dan investigasi yang mendalam, diketahuilah kemudian bahwa anak kecil itu baru saja mengenal “teriakan ekspresif nan penuh kebahagiaan” itu dari teman sepermainannya yang menganggap bahwa kata-kata itu adalah sebuah salam persahabatan yang hangat dan penuh semangat...
Sunday, April 05, 2009
Wednesday, March 04, 2009
afeksi dan kucing ngeong
aku berjalan dengan lesu. teringat bahwa beberapa hari ini aku begitu jenuh. lelah dengan semuanya. seperti yang tertulis pada buku Perilaku Konsumen yang kubaca semalam tadi, aku mengalami sebuah afeksi kejenuhan. perasaan tidak menyenangkan yang timbul akibat rutinitas. ah, rutinitas...
di tengah pandanganku yang kosong, aku tersadar bahwa di ujung lorong sana ada seberkas cahaya. ah, bukan, tapi dua titik cahaya. aku terkaget dibatnya. bukan takut seperti melihat hantu. hanya takjub saja. dan sedikit penasaran, cahaya apa itu?
semakin aku melangkah, samar-samar kulihat satu sosok. dua titik cahaya itu begitu bulat, dan terang. lalu di sekeliling dua cahaya itu mulai terlihat semacam wajah. dan tubuh yang mungil. lucu. dan imut sekali. ah, itu kucing...
langkahku semakin dekat. kucing itu terlihat semakin jelas. kucing betina yang mungil, dengan bulu kuning keemasan yang memantulkan cahaya lampu teras sebuah rumah di tengah-tengah gang ini. tatapannya tak pernah lepas dariku, terus memandangku. seolah aku begitu sayang untuk dilewatkan.
tak seperti kucing liar lainnya, ia tak beranjak dari tempatnya ketika aku semakin dekat. ia tak berlari. bahkan bersiaga pun tidak. katika aku tepat di depannya, aku berhenti. dan ia hanya mendongak ke atas, diam menatapku. manis sekali. aih, aku tak tahan untuk mengelus kepalanya.
ia segera bereaksi ketika ujung jariku menyentuh bulu-bulu lembutnya. ia menggeliat, mengelus-eluskan kepalanya pada jari-jariku. sambil mengeong manja.
ah, jika saja aku tak teringat bahwa aku harus segera pergi, aku bisa berlama-lama dengan kucing itu. maka akupun segera beranjak. melangkah pergi. meninggalkan kucing itu sendiri. kucing itu terbengong-bengong, seperti berpikir ia seolah tak percaya bahwa kucing semenarik ia tak mampu meluluhkanku. dan selanjutnya, ia mengikutiku...
aku terus melangkah menyusuri lorong gelap ini, menuju ujung gang sana. dan kucing itu terus saja mengikutiku. terkadang mendahuluiku dan mendongak ke atas untuk melihat wajahku. mau tak mau aku jadi berpikir, apa yang sedang dipikirkan kucing ini? sesekali ia mengeong, seperti ingin mengatakan sesuatu.
akhirnya aku sampai di ujung gang ini. di sebuah jalan raya yang lebar namun lengang. dan kucing itu masih mengikutiku. masih memandangku. dan ketika aku memandangnya, ia hanya mengeong, "ngeong..."
kucing yang manis. tapi aku tak punya banyak waktu untuknya. aku pun melangkah pergi. semakin jauh. semakin jauh. dan di kejauhan kulihat ia sesekali. ia masih menatapku, sambil mengeong manja, "ngeong..."
Friday, January 23, 2009
Kepada Seraut Wajah yang Berbeda Setelah Kaulepas Bingkai Kacamata
Kepada seraut wajah yang berbeda setelah kaulepas bingkai kacamata, aku mau mengadu. Ada apa denganku? Risau sepanjang waktu sejak ku mengenalmu. Menghabiskan malammalam sendu dengan jantung penuh detak kerinduan. Memikirkanmu. Memikirkanmu...
Belum sempat kutanyakan itu semua, dan semalam tadi kaugenapi kegalauanku.
Katakan padaku. Mengapa kabar gembira darimu membuat mataku perih terpejam. Seperti turut merasakan derita hati yang serasa terhunus sebilah pisau tajam. Sayangku, aku terluka begitu dalam...
Katakan padaku. Mengapa aku masih di sini. Ditemani luka menganga. Dan separuh hati yang tersisa, karena separuh lagi telah kuserahkan kepada seraut wajah yang berbeda setelah kaulepas bingkai kacamata.
Malang, 22 Januari 2009.
Thursday, January 22, 2009
Panderman Hill (Bagian 3): Menuruni Bukit
Tapi saya punya kabar baik untuk Anda. Ada satu teknik rahasia yang akan saya bagikan kepada Anda, dimana teknik ini memungkinkan Anda untuk menuruni bukit tanpa membuat kaki Anda terasa nyeri. Konon, teknik rahasia ini diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat yang tinggal di pedalaman pegunungan. Yang luar biasa dari teknik ini adalah, saat menuruni bukit Anda akan merasa ringan seolah Anda sedang terbang dan menembus angin. Bersiaplah mendengarnya. Nama teknik rahasia itu adalah... Berlari!
Percayalah kepada saya. Berlari menuruni bukit adalah salah satu bagian yang paling menarik dalam rangkaian pendakian Anda di bukit Panderman. Tapi jangan sembarangan mengagunakan teknik ini. Bisa-bisa karena keasyikan berlari, Anda tidak melihat tikungan tajam dan langsung nyemplung ke dalam jurang. Jika Anda belum berpengalaman, sebaiknya Anda ditemani oleh trainer profesional. Sangat dianjurkan untuk melakukan tandem: Anda digendong oleh trainer yang sedang berlari menuruni bukit. Berikutnya jika Anda sudah dianggap mampu dan menguasai teknik ini, barulah Anda boleh melakukannya sendiri. Tapi tetap saja, sebagai langkah pengamanan, Anda harus mengenakan parasut. Jadi jika Anda kebablasan saat menikung, Anda dapat membuka parasut dan sampai di dasar jurang dengan selamat. Perkara Anda bisa menemukan jalan pulang atau tidak, itu bukan urusan saya.
Wednesday, December 24, 2008
TUGAS AKHIR PEMASARAN JASA
Friday, November 28, 2008
Dimarahin sama Manajer CSR PT Semen Gresik tbk.
Kira-kira beginilah bunyi smsku: "Selamat pagi, Bapak Manajer. Saya Sahid, peserta seminar di Unibraw tempo hari dimana Bapak menjadi salah satu pembicara. Saya menyambut baik dan tertarik dengan program CRM perusahaan Bapak, bla bla bla..." Intinya aku ingin mengetahui prosedur pengajuan bantuan modal bagi pengusaha, yang menjadi salah satu kegiatan CSR PT Semen Gresik tbk.
Lama aku menunggu balasan dari beliau. Aku berpikir positif saja, mungkin beliau sibuk sekali dengan kegiatannya sebagai Manajer CSR perusahaan semen terbesar di Indonesia. Hingga kemudian ketika aku makan malam, datanglah balasan sms dari beliau. Dan apa isinya?
"Bukan CRM tapi CSR atau corporate social responsibility. Apa belum terima kuliah tentang CSR?! Bla bla bla..."
Ah, rupanya saat aku sedang belajar tentang CRM tadi pagi, aku sedikit ngelantur dan salah menuliskan CSR dengan CRM! Duh, memalukan nama Universitas Brawijaya saja, hehe...
Makan malam bareng cewek imut ternyata rasanya berbeda!
Beberapa malam yang lalu aku pergi makan malam dengan gadis seperti itu. Gadis yang manis, imut, lucu, dan modis. Jika kamu sedang jomblo, cobalah sekali-kali pergi berdua dengan gadis seperti itu, kawan. It's lift ur heart, dan bikin iri cowok-cowok yang melihat kalian berdua, seperti yang terjadi padaku tempo hari. Kami duduk di tengah-tengah, dan semua mata disana, paling tidak, melirik kami sesekali. Seperti halnya ketika kamu melihat cewek cantik jalan bareng cowok di suatu tempat, kadang sirik bukan? hehe..
Ok lanjut. Lalu saat kalian duduk berhadapan, kamu akan terpesona dengan cewek imut di depanmu itu, kawan. wajahnya yang manis, imut, serta tingkahnya yang lucu, dan senyumnya yang, jika kamu masih normal, akan terbawa sampai tidur! Jari lentik dan kuku indahnya menunjukkan bahwa cewek imut jauh dari urusan cuci mencuci, haha..
Dan ketika kamu mulai makan, semuanya terasa lezat. Tak peduli apapun yang kau makan, bahkan jika kau sedang maag sekalipun! Lalu perhatikan saat ia makan. Tonjolan di pipinya saat mengunyah bakso, terlihat seperti bola matahari pagi yang cahayanya lembut saat sunrise menjelang. Lalu bibirnya yang basah, akan tampak seperti gelas kristal mahal yang berkilauan, membuatmu harus memperlakukan ia dengan sangat lembut dan hati-hati. Aih...
Puasa yang nggak berkah!
Aaaahhh, rusak, rusak.... Puasa hari ini rusak!
Cinta itu tak masuk akal!
Tuesday, November 25, 2008
Terpesona
Lelaki itu tampak kuyu dan berantakan. Terlihat benar bahwa ia tidak bersemangat untuk pergi kuliah hari ini. Ia tidak membawa tas dan buku-buku. Kehadirannya hanya untuk mengangkat tangan saat kuliah ini berakhir nanti, agar lembar presensinya terisi. Sebuah lembar formalitas yang memaksa mahasiswa untuk hadir di kelas, agar kelak mereka berhasil mendapatkan satu lagi lembar formalitas yang bernama ijazah.
Diskusi berjalan dengan menarik di kelas itu. Penyaji dan peserta tampak bersemangat. Mereka kaum intelek yang sedang membicarakan retail distribution, service quality, store brand, dan sebagainya, yang akan membuat tukang becak dan penjual nasi goreng terbengong-bengong jika mendengarnya. Tapi diskusi itu tidak menarik perhatian lelaki yang terlambat tadi. Wajahnya muram, seperti cahaya lampu temaram di tengah hutan. Ia berada di dunianya sendiri, seolah ia adalah point of interest dalam slow motion, sementara dunia di sekelilingnya bergerak dengan cepat tanpa dihiraukannya. Pikirannya berlari keluar kelas lalu terbang menemui seorang gadis yang baru saja dikenalnya. Ya, ia sedang jatuh cinta. Perasaan itu baru saja didapatnya ketika ia mengajak makan malam seorang gadis dan menyadari bahwa gadis itu begitu istimewa.
Cinta memang tidak masuk akal. Lelaki yang sedang muram itu, malam-malamnya dipenuhi oleh kegelisahan tak berdasar. Matanya sulit terpejam saat ia hendak tidur. Ia akan tercenung memandangi ponselnya, berharap ada pesan yang masuk. Ketika pesan itu masuk, ia kegirangan dan tak sabar membukanya. Lalu ia menggerutu karena pesan itu bukan datang dari gadis yang diharapkannya. Sementara di malam yang lain, tangannya sibuk memainkan pena, menuliskan coretan kerinduan di atas sebidang kertas.
Diskusi di kelas itu masih berjalan dengan menarik. Akan tetapi lelaki itu masih saja sibuk dengan pikirannya sendiri. Hanya saja, ia sesekali melirik pena dan kertas yang tergeletak diam di kursi sebelahnya. Nampaknya tangannya gatal ingin menuliskan sesuatu. Maka diambilnya pena dan kertas itu tanpa permisi. Tidak dipedulikannya sang pemilik yang kaget terbengong-bengong melihat barang-barangnya diambil. Lelaki itu hanya diam membisu, mengingat-ingat kembali sebuah puisi yang dibuatnya semalam tadi, saat kegelisahan menderanya tak henti-henti. Lalu dituliskannya kembali puisi itu…
Katakan, bagaimana aku tidak terpesona?
Waktu seolah berhenti saat senyummu mengembang
Jantungku berdegup kencang saat kita bertemu pandang
Dan sipit mata saat engkau tertawa, sungguh tak bisa kulupa
Katakan, bagaimana aku tidak terpesona?
Bayangan dirimu menggoda tidurku dan tak bisa hilang…
Friday, October 31, 2008
Bahan UTS Pemasaran Jasa (BA)
Tuesday, October 28, 2008
Rintik Hujan Sore Itu
"Hai, Sahid! Lg nunggu fotokopi yah?" gadis ini menyapaku dengan senyum manisnya. Gadis ini selalu tampak ceria. Entah terbuat dari apa hatinya, gadis ini selalu pandai menyenangkan orang lain. Senyuman tak pernah lepas dari wajahnya, dan bibirnya tak pernah berhenti meluncurkan celotehan jenaka seperti anak kecil, lucu sekali. Paling tidak ia bisa memaksaku tersenyum saat hatiku sedang gundah. Ya, akhir-akhir ini hidupku terasa susah. Anganku serasa terbang ke atas awan, namun hatiku seolah terpenjara di dasar lautan. Aku menjalani malam-malam penuh gelisah. Inilah tipikal lelaki muda yang sedang jatuh cinta.
Sudah satu bulan ini aku tak tahan untuk menumpahkan perasaanku, walaupun hanya kepada pena dan kertas. Melalui puisi-puisi kuungkapkan isi hati. Entah mengapa aku memilih puisi. Kata-kata itu meluncur begitu saja, seperti aku yang tiba-tiba jatuh cinta. Tapi seorang penyair pernah berkata, puisi bisa jadi adalah ungkapan hati yang tak ingin diketahui oleh orang lain. Dengan puisi yang sarat makna dan ambigu, orang lain tak akan tahu siapa gadis yang telah mencuri hatiku, hingga hari-hariku terasa penuh sekaligus hampa. Penuh karena setiap hari terbayang-bayang wajahnya, namun hampa karena jiwaku telah diambilnya.
Bidadari. Hanya itulah petunjuk yang secara eksplisit tertera dalam puisiku tentangnya. Teman-temanku penasaran dengan sosok bidadari yang muncul dalam setiap tulisanku. Dalam puisi, dalam coret-coretan di buku, bahkan dalam edaran kelas. Waktu itu aku membagikan sebuah edaran mengenai informasi sebuah mata kuliah. Aku senang sekali karena akhirnya tugasku sebagai ketua kelas mata kuliah itu telah kuselesaikan dengan baik, meskipun sungguh berat dan menyita waktu. Maka aku merasa perlu untuk menuliskan daftar orang-orang yang harus mendapatkan ucapan terimakasih dariku, mulai dari penjual lalapan ayam di dekat kosku, penjaga rental komputer, teman-teman yang menemaniku begadang, dan tentu saja bidadari. dalam edaran itu aku tuliskan: Bidadari, engkau adalah hal kedua setelah mata kuliah ini yang membuatku tak bisa tidur!
Ketika edaran itu sampai di tangannya, aku memperhatikannya dengan serius. Aku tak ingin kehilangan setiap detik, bahkan kedipan mataku sekalipun. Agak lama ia membaca edaran itu. Tampaknya ia membaca semua tulisanku. Tiba-tiba ia bereaksi. Aku tahu, ia menahan tawa. Namun ia tak bisa menyembunyikan senyumnya yang jenaka. manis sekali. Lalu ia menuliskan sesuatu di atas edaran itu. Dan ketika edaran itu kembali kepadaku, di atas kata "bidadari" ia menuliskan kata-kata ini: "Aku ya?". Membaca tulisan itu, aku kaget bukan main. Sejak saat itu, aku merasa rikuh jika berada dekat dengannya. Namun demikian, sikapnya terhadapku tak pernah berubah, bahkan belakangan ini perhatiannya padaku semakin bertambah.
*
Awan semakin gelap. Suasana semakin senyap. Kampus ini sudah sepi, namun gadis di sebelahku ini masih ramai sekali. Ia membicarakan semua yang ada di dalam benaknya. Aku mendengarkan dengan sungguh-sungguh sambil sesekali menjawab pertanyaannya. Apa lagi yang lebih menarik perhatian lelaki yang sedang jatuh cinta ini selain gadis yang sedang duduk di sebelahnya?
Tiba-tiba, ia menyinggung tentang bidadari. Ia menanyakan siapakah bidadari yang selama ini menghiasi setiap puisi. Aku berusaha mengalihkan pembicaraan, namun ia sungguh antusias ingin membuatku membongkar sebuah rahasia. Aku pun terdiam. Aku tak tahu harus bicara apa. Aku hanya memandangnya, dan dia hanya memandangku. Waktu seolah berjalan lambat sekali, sementara aku tak bisa berpikir lagi. Aku tak bisa merasakan apa-apa selain suara jantungku yang berdetak kian kencang.
Saat itulah, tiba-tiba turun rintik hujan. Pandangan kami berdua beralih ke depan. Aku melihat butir-butir air membasahi rerumputan hijau, dan jatuh pula di atas bunga-bunga yang menghiasi taman di depanku. Pemandangan yang sangat indah. Aku bangkit berdiri dan melangkah perlahan ke depan, lalu duduk di teras. Dengan demikian aku bisa merasakan butir-butir air menerpa telapak tangan yang kujulurkan ke depan. Dia mengikutiku, duduk di sebelahku. Wajahnya sungguh menunjukkan rasa ingin tahu yang teramat sangat.
"Siapa..." dia bertanya sekali lagi, mengharapkan sebuah nama keluar dari bibirku. Ia sungguh penasaran, seolah tak yakin bahwa selama ini dialah bidadari itu.
Aku memang pernah jatuh cinta, tapi sebelumnya aku tak pernah mengungkapkan cinta pada seorang gadis. Tapi hari ini, di tengah rintik hujan yang baru saja turun dan perlahan membasahi taman bunga di depanku, gadis manis ini duduk di sebelahku. Gadis yang aku suka sejak lama. Aku merenung sejenak, berusaha menjawab sebuah pertanyaan: inikah waktunya?
Sunday, October 19, 2008
Trier Autra Spear Hyex!
Bagiku, mata kuliah ini sungguh menyebalkan. Beberapa semester lalu aku sudah menempuh mata kuliah ini, namun hasilnya kurang memuaskan. Akhirnya aku memutuskan untuk mengulang. Tapi entah mengapa, aku kurang begitu semangat mengikuti kelas ini. Bisa jadi karena aku kesepian. Tidak ada teman satu angkatan, karena peserta kelas ini dipenuhi oleh adik tingkatku. Atau mungkin juga karena aku sebal dengan dosenku. Meskipun sudah bergelar profesor, beliau suka sekali menggoda mahasiswanya. Pernah suatu kali seorang mahasiswi diminta untuk berdiri, dan aku ditunjuk untuk mendeskripsikan segala sesuatu tentangnya. Maka aku sebutkan saja pendapatku tentangnya, mulai dari bajunya, celananya, sepatunya, dan sebagainya. Mahasiswi itu begitu rikuh saat semua mata memandangnya, apalagi aku diminta untuk memberikan penjelasan detil, karena kami sedang membahas mengenai observasi. Sungguh kasihan sekali. Apalagi ketika aku berkomentar tentang muka jawanya, meledaklah tawa di ruangan itu, tak terkecuali sang profesor. Aku sungguh tak enak hati.
Mengetahui bahwa dosenku belum datang tak lantas membuatku bersantai-santai. Aku belum belajar sama sekali! Katakan kawan, bagaimana aku bisa bermimpi mendapatkan nilai A jika kuliahku tak serius seperti ini. Lalu aku membaca modul-modul kuliah. Sebagian kuambil dari dalam tasku, sebagian lagi kupinjam dari adik tingkatku. Kemudian aku membaca modul-modul itu dengan sangat cepat. Bisa jadi tulisan-tulisan itu masuk mata kiri keluar mata kanan. Entahlah, waktu berjalan begitu cepat. Aku benar-benar pasrah. Tidak mungkin menghafalkan semua materi dalam modul-modul ini.
Di saat-saat genting itu, perutku tiba-tiba sakit. Ah, habis makan apa aku semalam?! Aku benar-benar pusing dibuatnya. Aku ingin ke belakang, tapi sebentar lagi dosenku pasti datang. Aku seperti berada di persimpangan jalan: mencari wc atau menghabiskan sisa waktu untuk belajar ujian. Percayalah kawan, perasaan ini jauh lebih dahsyat daripada bingung memilih memakai uang untuk makan atau beli pulsa. Terlintas di benakku untuk menggunakan teknik jembatan keladi. Pikiranku mungkin sedang konyol. Ini kan mainan anak SD? Tapi nampaknya aku tak punya pilihan lain. Maka, sambil membaca cepat, kuciptakanlah beberapa rangkaian jembatan keladi, demi membantuku menghafalkan materi-materi dalam modul itu. Ah, mimpi di siang bolong kalau jembatan keladi konyol ini berguna di ujian nanti!
Ujian pun dimulai. Aku sudah lemas ketika lembar soal dibagikan. Perutku sungguh melilit. Apalagi sang profesor berpesan, yang sudah selesai boleh langsung pulang. Aduh, pasti aku yang bakal keluar terakhir!
Tapi kawan, sulit dipercaya. Mataku berbinar-binar ketika membaca soal-soal itu. Secara spontan, terlintas jawaban-jawaban di pikiranku. Seperti berjingkrak-jingkrak dalam otakku, antri berdesak-desakan menunggu giliran untuk dituliskan dalam lembar jawaban. Maka dalam waktu singkat, aku sudah menjawab hampir seluruh soal. Tapi rupanya ada satu soal yang tak dapat kutemukan jawabannya. Sudah kutugaskan mesin pencari dalam otakku untuk mencari jawaban itu, namun tak kunjung ketemu.
Sambil menunggu ilham, aku memperhatikan sekelilingku. Karena aku duduk paling belakang, aku dapat dengan mudah mengamati mahasiswa-mahasiswa di depanku. Tampaknya sebagian dari mereka mulai frustasi, lalu mengerahkan ilmu yang sudah dilatihnya selama bertahun-tahun, sejak kelas satu SD. Ada yang menoleh ke kiri dan ke kanan, ada yang mencolek orang di depannya, dan... Ah, ada yang malu-malu membuka modul yang disembunyikannya di bawah kursi. Wah, sepertinya sang ketua kelas harus menyadarkan kelas ini agar segera tobat. Lalu aku memperhatikan dafin yang juga duduk di deretan paling belakang. Mataku terbelalak. Sang ketua kelas justru sedang asik menyalin modul kuliah ke lembar jawaban dengan santainya.
Mungkin karena kaget oleh pertunjukan sang ketua kelas, pikiranku seperti dicampur aduk. Memori di dalam otakku seperti dikocok-kocok, sehingga keluarlah memori-memori yang tersembunyi di sela-sela ingatanku. Tak disangka-sangka, kutemukan jawaban soal yang belum kujawab. Aku seperti archimedes yang berlari-lari sambil meneriakkan "eureka!". Aku kegirangan sambil menggumamkan rangkaian kata yang tak kalah legendaris, "trier autra spear hyex!"
Jangan bingung kawan, itu bukanlah bahasa yunani kuno ataupun bahasa dari planet lain. Itu adalah salah satu dari jembatan keladi konyol yang kuceritakan tadi. "Trier autra spear hyex" adalah singkatan dari trial-error, authority-tradition, speculation-argumentation, dan hypothesis-experimentation. Dan itu adalah sejarah perkembangan metodologi penelitian! Akhirnya, terjawab sudah semua soal ujian ini!
Karena aku sudah tidak tahan dengan keadaan perutku, aku langsung bangkit berdiri dengan gagahnya bak peragawan yang memamerkan wajahnya nan rupawan. Semua mata pun tertuju padaku. Percayalah kawan, sensasinya terasa menyenangkan. Jika tidak percaya, cobalah sekali-kali menjadi yang pertama menyelesaikan soal ujian. Tapi jangan coba-coba melakukannya jika lembar jawabanmu masih kosong, apalagi jika itu terjadi pada saat ujian akhir semester. Ketika melihat lembar jawabanmu, seorang profesor pun bisa mengumpat dalam hati, "orang ini pasti sudah gila!"
Aku berjalan menuju meja dosen dan menyerahkan lembar jawabanku. Bisa kudengar suara-suara mahasiswa yang spontan mengomentariku karena akulah yang pertama menyelesaikan ujian ini. Bisa jadi mereka kagum, atau mungkin sirik padaku? Ah, aku tak mau memikirkannya, apalagi berburuk sangka. Aku lebih peduli pada perutku yang makin melilit. Maka dengan gaya yang kuatur setenang mungkin, aku pamit pada sang profesor, berjalan menuju pintu dan menutupnya dengan perlahan. Padahal sejujurnya aku sudah tak tahan lagi.
selanjutnya bisa kau tebak kawan, aku lari tunggang langgang mencari wc.